Usia 12 Tahun, Berat Alsa Setara Anak Setahun. Peristiwa Tahun 2005 Penyebabnya. . .
Alsa Anisa tampak ceria di gendongan ibunya, Prihatin (39) di rumahnya, desa Rejamulya Kedungreja Cilacap
Penulis: khoirul muzaki | Editor: muslimah
Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki
TRIBUNJATENG.COM CILACAP - Alsa Anisa tampak ceria di gendongan ibunya, Prihatin (39) di rumahnya, desa Rejamulya Kedungreja Cilacap. Ia melempar tawa saat diajak bermain ke rumah tetangga bersama anak-anak lain.
Anak itu lebih banyak menghabiskan waktunya di gendongan ibunya, Prihatin. Kadang, Nabila (16), kakaknya ganti menggendongnya jika ibunya sedang repot.
Tubuh Alsa Anisa lebih mungil dari gadis seumurannya. Meksi usianya telah mencapai 12 tahun, bobot tubuhnya hanya 8,5 kilogram, atau setara dengan bobot bayi umur setahun. Ia bahkan baru bisa duduk saat sudah menjelang remaja.
Karena tubuh mungilnya, Anisa tetap disapa dengan sebutan dik, bahkan oleh teman-teman yang usianya di bawahnya.
"Dia inginnya digendong terus, apalagi kalau sedang sakit," kata Prihatin di kediamannya, Rejamulya Kedungreja Cilacap
Menurut Prihatin, Anisa lahir normal pada tahun 2005 . Tidak ada tanda kelainan pada tubuh bayi itu.
Namun sejak usia enam bulan, Anisa kerap diterpa demam tinggi. Pertumbuhan fisik Anisa sejak itu mulai terganggu.
Gangguan kesehatan merambat ke organ matanya yang nyaris kehilangan daya pandang.
Anisa lahir dari keluarga sederhana. Ia menempati rumah ukuran sekitar 4x7 meter bersama ibu dan kakaknya. Bangunan rumah keluarga itu hanya berbahan kayu dan anyaman bambu.
Hanya ada sebuah kamar, dapur, dan ruang tamu yang juga berfungsi sebagai ruang kerja bagi Prihatin untuk menjahit pakaian.
Prihatin tak jarang harus menyelesaikan jahitan sambil menggendong putrinya. Meski kerepotan, pekerjaan ini paling ramah baginya karena bisa dikerjakan sambil merawat putrinya yang kekurangan. Sementara ayah Anisa, Sarimin (45) merantau ke Jakarta sebagai buruh bangunan.
Prihatin sudah berusaha maksimal untuk membuat anaknya sembuh dan tumbuh normal. Meski sudah habis-habisan biaya untuk berobat ke dokter atau rumah sakit, kondisi putrinya tak mengalami perubahan berarti.
Untuk menjalani terapi medis rutin, Prihatin mengaku tak sanggup. Ia memang terdaftar sebagai pemegang kartu BPJS (PBI). Boleh jadi biaya berobat gratis, namun biaya transportasi rutin ke Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta tak mampu dijangkaunya.
Karena keterbatasan ekonomi, Prihatin terpaksa mengobati anaknya secara tradisional. Ia rutin memijat tubuh putrinya dengan ramuan tradisional dengan harapan sembuh.
"Sekarang sudah mau makan selain bubur bayi. Dia juga terlihat lebih aktif. Ada perkembangan," katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/anisa-12-di-gendongan-kakaknya-si-rumahnya-rejamulya-karangreja-cilacap_20171111_171708.jpg)