Kamis, 30 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

FOCUS

Zaman Now dan Demokrasi

Zaman now. Sebuah istilah baru yang kini mulai ngetren digunakan dalam bahasa pergaulan, terutama ketika berselancar di internet

Tayang:
Penulis: rustam aji | Editor: bakti buwono budiasto
tribunjateng/dok
RUSTAM AJI wartawan tribunjateng.com 

TRIBUNJATENG.COM - Zaman now. Sebuah istilah baru yang kini mulai ngetren digunakan dalam bahasa pergaulan, terutama ketika berselancar di internet. Entah siapa yang awal kali memunculkan istilah “zaman now” ini.

Secara bahasa, zaman now terdiri dari dua kata, yakni zaman dan now. Makna zaman bila mengacu pada Bahasa Indonesia, bisa berarti jangka waktu yang panjang atau pendek yang menandai sesuatu (masa/waktu). Sementara now adalah kata dalam Bahasa Inggris yang berarti sekarang. Karena itu, zaman now bisa diartikan sebagai zaman sekarang.

Kenapa seolah istilah zaman now ini lebih popular ketimbang istilah “masa kini” atau “masa sekarang”, yang sebenarnya sudah muncul lebih dulu dan tidak jauh beda maknanya.

Kenapa zaman now lebih populer? Bisa jadi karena penggunaan iztilah zaman now dikaitkan dengan gaya hidup yang bergantung pada gadget. Sejatinya, zaman now tidak merujuk pada umur seseorang, seperti penggunaan istilah generasi x, y, dan z. Melainkan lebih pada sejauhmana hidup ini bisa eksis di dunia gadget. Di zaman now ini, bahkan orang yang mau bunuh diri saja tak segan untuk “selfie” dengan gadgetnya.

Pemanfaatan gadget yang mampu mendekatkan yang jauh, tidak selalu memunculkan sisi positif. Sebab, pada kenyataannya, teknologi gadget juga telah menjadikan zaman now, menjauhkan yang dekat. Siapa pun kini lebih suka memainkan gadget, meski itu di tengah kerumunan banyak orang, ketimbang bertegur sapa dengan yang ada di dekatnya.

Pola komunikasi yang terjadi pada zaman now, seolah menjustifikasi bahwa generasi zaman now anti-sosial, tak peduli lingkungan, dan cenderung egois. Hal ini jelas sangat memprihatinkan, karena hal itu cukup membahayakan bagi kelangsungan demokrasi. Demokrasi yang diusung berdasar atas nilai-nilai kebersamaan, akan menjadi tidak bermakna karena generasi yang hidup di dalamnya cenderung anti-sosial dan invidualis.

Pada sisi lain, hadirnya zaman now, menjadikan interaksi relasi sosial makin terbuka. Tidak lagi muncul sekat-sekat dalam pergaulan. Namun pada sisi lain, hal itu cenderung melupakan manusia sebagai makluk sosial. Mereka satu sama lain saling membutuhkan, bukan hidup secara individualis, cuek, tanpa mau peduli dengan lingkungan.

Hadirnya zaman now memang tidak bisa dicegah karena itu bagian dari perkembangan teknologi. Toh begitu, kita tidak bisa menafikan bahwa negara ini dibangun atas landasaan sebuah demokrasi yang menjunjung tinggi pada nilai-nilai kemanusiaan. Apa jadinya bila generasi yang akan datang cenderung antipati terhadap nilai-nilai demokrasi dan lebih suka pada sikap-sikap narsis? Pada batasan tertentu, sebagai generasi old yang melahirkan zaman now, kita tetap harus mengarahkan kepada mereka, mana perilaku yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan. Kontrol tetap diperlukan agar zaman now tidak melenceng dari demokrasi. Apalagi, zaman now ini jadi penentu untuk menghasilkan pemimpin dalam proses Pilkada serentak. 

Nilai-nilai demokrasi yang diajarkan terhadap siswa zaman now, cenderung aplikatif. Misalnya lewat pemilihan ketua OSIS (Pemilos) secara langsung. Dengan model itu, siswa zaman now secara tidak langsung telah dididik untuk memilih calon pemimpin yang berkualitas dan bertanggungjawab, tidak sekadar mengutamakan pada pencitraan belaka. Semoga saja, generasi zaman now tidak bersikap pragmatisme dalam berdemokrasi!  (tribunjateng/rustam aji)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved