Rabu, 6 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Keluarga ABK Golden Tuna yang Terbakar di Perairan Australia Diundang Perusahaan Pemilik Kapal

Misbachul Munir, adik satu di antara korban Warsidin, mengatakan, setiap hari pihaknya selalu menghubungi pihak perusahaan

Tayang:
Penulis: khoirul muzaki | Editor: Catur waskito Edy
youtube
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Jatemg Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, CILACAP - Keluarga korban terbakarnya kapal Golden Tuna 88 di Desa Pesanggrahan Kesugihan Cilacap masih harap cemas menunggu kabar korban yang hingga sekarang belum ditemukan.

Sebulan berlalu, sejak kabar pertama tentang insiden itu terdengar, (29/10), keluarga korban digantung dalam ketidakpastian hingga kini. Perusahaan yang memberangkatkan kapal itu tak kunjung memberi kabar mengenai keberadaan para ABK.

Misbachul Munir, adik satu di antara korban Warsidin, mengatakan, setiap hari pihaknya selalu menghubungi pihak perusahaan via telepon untuk menanyakan perkembangan pencarian ABK.

Namun, pertanyaan itu selalu dijawab dengan nada sama setiap harinya, seluruh ABK belum ditemukan.

"Kami hubungi setiap hari, namun jawabnya sama, pencarian belum membuahkan hasil. Kami jadi mempertanyakan, bagaimana mencarinya kok sudah lama belum ketemu,"katanya, Selasa (28/11).

Panggilan telepon dari perusahaan beberapa waktu lalu ke pihak keluarga sedikit melegakan. Perwakilan keluarga diundang oleh pihak perusahaan ke kantor di Bali untuk membahas permasalahan tersebut, Kamis (30/11) mendatang.

Mereka disyaratkan membawa surat kependudukan, pengantar dari Pemerintah Desa, serta Kepolisian.

Dengan bertemu langsung, Munir akan menumpahkan seluruh pertanyaan yang mengganjal di pikirannya. Ia ingin tahu bagaimana kronologi sebenarnya hingga kapal itu sampai terbakar di tengah laut. Pihak keluarga juga ingin meminta bukti fisik mengenai insiden kebakaran itu.

Informasi itu tidak pernah mereka dapatkan meski berulangkali ditanyakan melalui sambungan telepon. Keluarga juga akan mempertanyakan tanggung jawab perusahaan dengan adanya kecelakaan itu.

"Sebelumnya kami hanya komunikasi via telepon. Kalau bertemu langsung nanti, kami harap ada kejelasan atas semuanya ini. Karena selama ini tidak ada kejelasan,"katanya

Musibah ini tidak pernah disangkakan sebelumnya. Kelima ABK dari Desa Pesanggrahan ini berangkat usai lebaran, Juli 2017 lalu. Tawaran gaji menggiurkan dari pihak perusahaan membuat mereka kepincut untuk melaut.

Apalagi dua di antara mereka, Lewih dan Narsiwan telah membuktikan sendiri manisnya penghasilan menjadi ABK penangkap ikan mahal. Keduanya membagi pengalaman itu kepada warga di kampung saat pulang lebaran.

Tiga warga dari RT berbeda, Sukijo, Warsidin, dan Yahman Subechi tak kuasa menolak tawaran kerja dari tetangga yang kesejahteraannya meningkat usai menjadi ABK.

Di banding penghasilan mereka sebelumnya pedagang kecil dan buruh bangunan, gaji ABK tentu terlampau tinggi.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved