Minggu, 19 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Liputan Khusus

CUACA BURUK! Inilah Cara Nelayan Mampu Bertahan Hidup

Kondisi kayak gini nelayan tetap berani melaut, tapi paling hanya dua kilometer dari daratan. Sebab ombaknya besar sampai tiga meteran

hermawan endra

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Muali terlihat duduk termenung di atas kapal miliknya, Minggu (3/11) siang. Pria warga kampung nelayan Tambaklorok, Semarang itu baru saja bersandar dan sedang melepas lelah setelah seharian mencari ikan.

Kepada Tribun Jateng, ia mengeluh akhir-akhir ini tangkapan ikan tak seperti biasa.

Jika kondisi normal ia mampu membawa pulang satu hingga dua ton ikan, sejak seminggu ini hasil tangkapan turun hanya sekitar lima kwintal atau hanya seperempatnya.

Jika dirupiahkan, ia hanya bisa mendapat hasil sekitar Rp 1 juta sekali berlayar. Kondisi tersebut menurun tajam jika dibanding keadaan normal yang mampu memperoleh keuntungan kotor Rp 5 juta.

"Hasil tangkapan seperti ikan teri, sriding, kembung turun. Begitu pun pendapatan, padahal sekali berlayar butuh biaya sekitar Rp 1 juta untuk beli solar, es batu, dan uang makan ABK," kata Muali.

Keadaan ini menurutnya disebabkan karena kondisi cuaca di perairan sedang tidak bersahabat.

Nelayan hanya bisa berlayar maksimal dua kilometer dari bibir pantai. Jika lebih dari itu, maka nyawa menjadi taruhannya.

"Kondisi kayak gini nelayan tetap berani melaut, tapi paling hanya dua kilometer dari daratan. Sebab ombaknya besar sampai tiga meteran, terlalu berisiko jika dipaksakan lebih dari jarak aman," imbuhnya.

Ali demikian sapaan akrab Muali, bercerita, baru-baru ini ada kejadian kapal tenggelam akibat diterjang ombak.

Beruntung nahkoda beserta Anak Buah Kapal (ABK)-nya bisa diselamatkan oleh perahu nelayan terdekat.

"Kejadian kapal tenggelam Kamis (30/11) kemarin. Akibat ombak besar ini banyak perahu nelayan yang rusak atau pecah di beberapa bagian," imbuhnya.

Akibat tangkapan ikan menurun, upah yang diberikannya kepada 14-15 ABK sekali berlayar pun ikut berkurang.

Jika biasanya satu ABK diupah Rp 100 ribu sekali berlayar kini paling hanya Rp 30 ribu.

"Dalam hati kasihan, masa seharian berlayar dapatnya Rp 30 ribu, buat makan sendiri aja belum tentu cukup apalagi untuk keluarga mereka. Tapi ya mau bagaimana lagi, Hasil sedikit jadi saya juga tidak bisa kasih banyak," imbuhnya.

Ali memperkirakan kondisi cuaca buruk di perairan ini akan berlangsung hingga Januari tahun depan.

Meski kondisi cuaca tidak bersahabat, menurut Ali para nelayan lain di kampung nelayan Tambaklorok tetap pergi mencari ikan meski hanya bisa berlayar di jarak maksimal dua kilometer.

"Kalau nggak cari ikan, kami mau makan apa. Ya tetap harus memberanikan diri melaut," imbuh Muali yang telah menjadi nelayan sejak usia remaja.

Tak memberi izin

Para nelayan di Juwana, Pati, juga tak berani melaut sejak Jumat (1/12). Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pati, Rasmijan mengatakan Syahbandar pelabuhan Juwana tak memberi izin berlayar sejak Jumat pekan lalu.

Hal itu lantaran kondisi laut yang sedang tidak bersahabat.

"Sejak tanggal 1 Desember kemarin, hingga kemungkinan sampai 5 Desember mendatang, nelayan tak diizinkan berangkat melaut oleh Syahbandar," kata Rasmijan.

Disampaikan, sebelum tanggal 1 beberapa kapal telah berangkat melaut. Namun, kini, lantaran cuaca yang sedang tidak memungkinkan, mereka menepi dan mencari tempat bernaung terlebih dahulu.

"Kapal yang gede saja nyari tempat berlindung, apalagi kapal-kapal kecil, otomatis tak bisa melaut," ucapnya.

Menurut dia, pasokan ikan di Juwana tetap ada. Dikatakan, ikan-ikan tersebut berasal dari kapal-kapal nelayan yang telah melaut saat gelombang masih bersahabat.

"Ya kapal-kapal yang berangkat sebulan lalu kan sudah pada pulang, sehingga persediaan ikan tetap ada," ujar dia.

Selain itu, diakui, harga ikan mengalami sedikit kenaikan. Tak ada lonjakan harga yang signifikan. "Ya naik dikit, paling cuma seribu rupiah per kilogramnya, gak ada lonjakan," akunya.

Lantaran tak diperbolehkan melaut, aktivitas para nelayan saat ini hanya berbenah. Misalnya, memperbaiki kapal atau jaring, yang digunakan untuk menangkap ikan sehari-hari.

Sementara tak melaut, otomatis tak ada pendapatan yang bisa diandalkan. Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, para nelayan mengandalkan uang simpanan dari sisa hasil melaut sebelumnya.

"Jika tak punya simpanan ya andalkan pinjeman dulu, mau bagaimana lagi," tuturnya.

Disinggung total jumlah nelayan di Pati saat ini, Rasmijan, tak dapat memastikan. Yang jelas, menurut dia, jumlahnya diperkirakan lebih dari 10.000 jiwa.

"Tahun kemarin saja, jumlahnya lebih dari 9.000 orang, tiap tahun jumlah nelayan bertambah, karena jumlah penduduk ya terus naik," imbuhnya.

Ia berharap, kondisi perairan kembali normal. Sehingga, aktivitas nelayan mencari ikan dapat kembali berjalan seperti hari-hari sebelumnya.

Istirahat

Nasib nelayan Cilacap juga serupa. Sudah sekitar sepekan, sejak Minggu (26/11), kebanyakan nelayan di Cilacap, Jateng, tak melaut. Gelombang tinggi ini tak lepas dari dampak siklon Cempaka.

"Sejak hari Minggu kemarin sudah pada tidak melaut. Sebagian ya melaut, tapi hanya di bagian perairan yang terlindung oleh Nusakambangan, tak berani lebih dari situ," kata Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cilacap, Sarjono.

Saat tak melaut para nelayan mengisi waktu untuk memperbaiki kapal maupun alat tangkap ikan yang ada. Selain itu, masa-masa seperti ini, dinilai sebagai waktu untuk istirahat bagi para nelayan. "Kalau tidak begini, nelayan tak ada istirahatnya," ucap dia.

Dikatakan, berdasarkan data pada 2015, jumlah total nelayan di Cilacap mencapai lebih dari 30.000 jiwa. Namun, saat dilakukan pendataan ulang guna sertifikasi anggota, jumlah nelayan yang tercatat baru mencapai 17.000-an orang.

Dari jumlah itu, sekitar 70 persen, -atau bahkan lebih-, di antaranya termasuk golongan nelayan buruh. Sisanya, adalah nelayan pemilik kapal maupun pemilik kapal yang juga sekaligus menjadi awak kapal yang dioperasikan.

"Kalau musim seperti ini, yang kasihan kan nelayan buruh, mereka yang paling merasakan dampaknya. Untuk menutup kebutuhan sehari-hari, mereka ya sementara kerja serabutan dulu," ujarnya.

Namun, meski sekitar sepekan tak melaut, persediaan ikan di Cilacap tetap aman. Sebab, pihaknya mempunyai gudang penyimpanan, berupa cool storage, berkapasitas 100 ton.

"Tempat penyimpanan kita punya, tujuannya semata-mata bukan untuk mencari keuntungan, tapi lebih kepada untuk menstabilkan harga ikan. Agar nelayan tak dipermainkan tengkulak," tandasnya.

Dampak siklon Cempaka mengakibatkan ombak di perairan selatan Jateng, berpotensi mencapai 2,5 meter - enam meter. Selain itu, kecepatan angin bisa mencapai 30 knots lebih.

"Namun, mulai hari Minggu (3/12) ini, cuaca sudah mulai membaik. Kalau sudah memungkinkan, ya tentu kita akan melaut lagi," pungkasnya. (Tim)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved