Petani di Kendal Sebut Kartu Tani Justru Mempersulit Pihaknya
Bahkan Kartu yang digunakan sebagai alat kontrol petani dalam membeli pupuk itu belum seluruh petani memahami itu
Penulis: Dhian Adi Putranto | Editor: muslimah
Laporan wartawan Tribun Jateng, Dhian Adi Putranto
TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Pada bulan Januari kartu tani sudah dapat digunakan oleh para petani. Meski kartu tani sudah dapat digunakan, namun banyak petani di Kendal yang belum memperoleh kartu tani itu.
Bahkan Kartu yang digunakan sebagai alat kontrol petani dalam membeli pupuk itu belum seluruh petani memahami itu.
Suprianto, petani asal Purwokerto, Patebon Kendal hingga saat ini belum memperpoleh kartu tani.
Dirinya membeli pupuk dalam eceran pasalnya dirinya hanya mampu membeli pupuk dalam jumlah sedikit.
Berkaitan dengan kartu tani, Ia pun tidak paham dengan kartu tani dan penggunaan kartu tersebut.
"Sudah ada sosialisasinya dulu, tapi yang diundang sekedik(sedikit)" terang suprianto, Rabu (17/1).
Meski dirinya belum mempunyai kartu itu, ia mengatakan adanya kartu petani akan mempersulit petani.
"Pastinya mempersulit, yang tidak paham dengan perbankan pasti akan kesusahan, apalagi harus mengingat pin kartu setiap membeli, nomor telepon saja sering lupa, "katanya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Ismail, seorang distributor pupuk di Patebon Kendal. Ia mengatakan dirinya telah menerima alat EDC (Electronic Data Capture).
Namun saat dirinya melakukan uji coba dengan kartu tani milik seorang petani namun data dari kartu tani tersebut tidak ada.
"Seharusnya tampil data nama dan jatah pupuk yang dapat dibeli, namun ini kosong," ucapnya.
Ia mengatakan dirinya saat ini masih menjual pupuk secara bebas tanpa batasan kuota meski seharusnya januari dirinya hanya melayani petani yang hanya mempunyai kartu tani. '
Lanjutnya ia menerangkan bahwa setiap bulannya ada perkumpulan para distributor pupuk se-kabupaten Kendal. Dan dari perkumpulan tersebut disepakati penggunaan kartu tani dalam membeli akan mulai dilayani pada bulan Februari.
"Sawah di desa Purwokerto itu sekitar 43 hektare. Namun dalam RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompoktani) jumlah jatah pupuk saya terima hanya dapat mengkaver 18 hektare saja, sisa sawah lainnya bagaimana? pasti petani kesulitan," terangnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/suprianto-tengah-membeli-pupuk-secara-eceran_20180117_172749.jpg)