Sabtu, 11 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Wali Kota Hendi Minta Hentikan Polemik Impor Beras

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, menolak keras rencana pemerintah yang akan mengimpor beras

Penulis: m zaenal arifin | Editor: galih permadi
tribunjateng/galih permadi
Kota Semarang sedang membangun sirkuit berkelas internasional di Kecamatan Mijen. Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi meninjau proyek tersebut, Selasa (5/9/2017) untuk pantau perkembangannya. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, menolak keras rencana pemerintah yang akan mengimpor beras.

Menurutnya, jika impor beras dilakukan justru melukai petani.

Jika dilakukan impor, maka ia menolak keras beras impor masuk ke Kota Semarang.

Ia beralasan, stok beras di Kota Semarang yang diambil dari beberapa daerah di Jateng yang panen raya sudah mencukupi.

"Sebenarnya stoknya beras sudah sangat cukup di Semarang dan Jawa Tengah. Jadi kalau mau import ya jangan dimasukan ke Jawa Tengah, supaya petani di Jawa Tengah bisa merasakan keuntungan dari hasil dan jerih payah panen raya mereka," kata Hendi, sapaannya, Rabu (17/1/2018).

Karenanya Hendi menolak keras beras impor masuk Kota Lunpia.

Hendi tidak ingin nasib petani selalu mengalami kesusahan dan kedukaan, terlebih di saat sedang panen.

Menurut Hendi, kebijakan mengimport beras akan semakin memperlemah posisi petani dengan anjloknya harga beras di saat petani di beberapa wilayah di Jateng sedang panen.

"Mereka sudah berbulan-bulan menanam, kemudian panen dijual, itupun untungnya tidak seberapa," tuturnya.

Karenanya, Hendi sependapat dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang menyatakan Jateng swasembada pangan.

Kalau kemudian harga beras naik, justru kondisi tersebut merupakan keuntungan bagi petani.

Lebih lanjut, Hendi mengungkapkan, kebijakan impor beras ibarat dua sisi keping mata uang.

Ada dua konsekuensi yang harus dihadapi baik bagi para petani maupun bagi rakyat Indonesia yang mayoritas adalah pengkonsumsi beras sebagai sebagai kebutuhan pokok sehari-hari.

"Satu sisi, pemerintah pusat ingin menstabilkan harga, tapi pasti satu sisi lainya petani di Jawa Tengah yang khususnya sedang panen raya, mereka akan mengalami harga yang drop (jatuh turun). Kembalilah kisah duka seorang petani. Sekarang tinggal berat mana?," terangnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved