Semnas Biologi UKSW: Penelitian di Indonesia Sebaiknya Berbasih Pemecahan Masalah
Dekan Fakultas Biologi UKSW Dra Lusiawati Dewi menyatakan rasa syukurnya dapat kembali menyelenggarakan kegiatan ini.
Penulis: ponco wiyono | Editor: suharno
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Ponco Wiyono
TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA – Fakultas Biologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) bekerjasama dengan Perhimpunan Biologi Indonesia kembali menggelar Seminar Nasional Biologi dan Pendidikan Biologi, Sabtu (20/1/2018) di Hotel Grand Wahid.
Mengangkat tema "Penelitian, Penerapan dan Pembelajaran Biologi dalam Menghadapi Tantangan Abad 21" kegiatan seminar yang juga dirangkai dengan call for paper ini diikuti tidak kurang dari 50 peserta dan 70 pemakalah yang terdiri dari mahasiswa, dosen, guru dan pemerhati pendidikan.
Ketua Panitia Dr. Elizabeth Betty Elok Kristiani mengatakan, fakultas Biologi berusaha menjadi penghubung bagi para peneliti dan pelaku pendidik biologi dalam upaya pertukaran informasi ilmiah guna menghadapi tantangan era saat ini.
"Kegiatan ini merupakan agenda rutin Fakultas Biologi dan peserta yang hadir dalam seminar ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia," katanya sesuai rilis Humas UKSW Salatiga.
Baca: Perkuat Status Desa Rintisan Wisata, Area Bendungan di Desa Jurang Kudus Dipercantik
Dekan Fakultas Biologi UKSW Dra Lusiawati Dewi menyatakan rasa syukurnya dapat kembali menyelenggarakan kegiatan ini.
"Abad 21 menjadi tantangan bagi para ilmuwan Biologi untuk dapat mengaplikasikan ilmu Biologi sebagai ilmu dasar menjadi ilmu aplikasi. Sehingga diharapkan dengan adanya seminar ini dapat menjadi ajang pertukaran pengalaman guna meningkatkan perkembangan Biologi," jelas Lusiana.
Seminar dibuka oleh Rektor UKSW, Neil S. Rupidara dan dua narasumber yang hadir adalah pakar penelitian dan pendidikan yaitu Ketua Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI) Ence Darmo Jaya Supena dan Praktisi Pendidikan Abad 21 Indra Charismadji.
Ence Darmo dalam pemaparannya menyebut bidang biologi sebagai salah satu penelitian dasar di Indonesia masih kalah prioritas dari penelitian terapan atau aplikatif.
Hal ini selain karena terkendala anggaran penelitian yang masih rendah namun juga peneliti dituntut untuk memberikan imbas yang lebih cepat dan langsung kepada perekonomian.
Sehingga anggaran yang ada masih difokuskan untuk pemecahan masalah praktis.
"Namun para peneliti jangan sampai terjebak pada kondisi ini. Penelitian dasar yang dilakukan sebaiknya difokuskan atau berbasis penerapan untuk pemecahan masalah, ini sangat berpeluang untuk dikembangkan dan diterapkan pada pengembangan sains dan teknologi lainnya," imbuh dosen IPB ini.
Indra Charismadji mengatakan kualitas pendidikan di Indonesia abad 21 masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara maju dan berkembang lainnya.
Menurutnya sistem pendidikan di Indonesia saat ini belum mampu menjawab tantangan masa depan yang penuh persaingan dan semakin kompleks.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/seminar-biologi_20180121_155337.jpg)