Senin, 20 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Jalan Provinsi di Desa Slatri Karangkobar Berhasil Dibuka, Namun Jalur Provinsi Masih Putus

Seratusan warga dan relawan sejak pukul 06 00 Wib bahu membahu membersihkan material longsor yang menimbun jalan raya

Penulis: khoirul muzaki | Editor: muslimah
Tribunjateng.com/Khoirul Muzaki
Jalur provinsi di desa Slatri Karangkobar Banjarnegara berhasil dibuka setelah material longsor dibersihkan dari jalan raya itu 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Jalur provinsi ruas Banjarnegara-Karangkobar di Desa Slatri Kecamatan Karangkobar berhasil dibuka kembali setelah seharian tertutup longsor.

Seratusan warga dan relawan sejak pukul 06 00 Wib bahu membahu membersihkan material longsor yang menimbun jalan raya.

Pembersihan material longsor berupa tanah, bebatuan dan bangkai pepohonan itu dilakukan secara manual menggunakan alat tradisional, semisal cangkul dan sekop.

Mulanya, titik jalan itu tertimpa material longsor tebing setinggi sekitar 15 meter pada Jumat dini hari (9/2). Untungnya, saat kejadian lalu lintas jalan sepi sehingga tak timbul korban jiwa.

Jalan sempat tertimbun longsoran sepanjang sekitar 20 meter dengan ketebalan 1 hingga 3 meter.

"Dibersihkan dengan manual karena alat berat tertahan di Paweden, tidak bisa kesini,"katanya, Sabtu (9/2).

Pada mahkota longsor, air masih mengucur deras hingga mengikis tanah tebing yang menjadi alirannya.

Longsor itu dipicu karena jebolnya saluran irigasi di atas mahkota longsor saat hujan lebat terjadi kemarin.

Air dari saluran itu merembes ke tanah bersama air hujan sehingga tebing tak mampu menahan beban air.

Kepala Desa Slatri Irawan Sri Utomo mengatakan, pihaknya sebetulnya telah mengusulkan pipanisasi ke Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Banjarnegara untuk saluran irigasi itu semenjak 2014 silam.

Pihaknya sejak saat itu telan melihat adanya potensi longsor di sepanjang tebing yang terdapat saluran irigasi. Masalahnya, air dari saluran yang terletak di atas tebing sejauh 2 kilometer itu sering meluap dan menambah beban tebing.

Melalui pipanisasi, aliran air tidak akan tumpah ke tanah sehingga tebing lebih aman terhadap potensi longsor.

"Saat itu kami lihat tebing sudah retak-retak,"katanya

Paskakejadian ini, potensi longsor masih mengancam, sepanjang belum dilakukan pipanisasi terhadap saluran air sejauh sekitar 2 kilometer di atas tebing sisi jalan provinsi itu.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved