CIRI-CIRI Kelompok Kurung Diri di Semarang, Wanita Harus Berjarit dan Pria Bawa Sarung
Dari penggerebekan, polisi mengamankan 43 orang yang diduga merupakan anggota kelompok tersebut.
TRIBUNJATENG.COM - Kelompok yang diduga menerapkan ajaran aliran sesat itu digerebek aparat Kepolisian di rumah kawasan Palebon RT 1/RW 11, Pedurungan, Kota Semarang, Rabu (14/2) malam.
Dari penggerebekan, polisi mengamankan 43 orang yang diduga merupakan anggota kelompok tersebut.
Adapun Andi Rodiyono (63), seorang pemimpin kelompok yang juga pemilik rumah telah diperiksa oleh Polsek Pedurungan Kamis (15/2).
Mereka semua memiliki kebiasaan yang janggal di mata warga sekitar lantaran tidak bersosialisasi dengan warga lain.
Selain itu, anak-anak yang juga tergabung kelompok tersebut tidak diperkenankan sekolah.
Istri Ketua RW 011, Rosmiyati (57) mengaku kegiatan anggota kelompok yang diduga aliran sesat itu memang sangat meresahkan.
Terlebih lagi, di rumah itu terdapat banyak anak-anak kecil.
Mereka semua yang dulunya masih mengenyam pendidikan, tiba-tiba tidak boleh bersekolah sejak tiga bulan rumah milik Andi ditutup rapat.
"Jadi, tidak boleh ada interaksi apapun dengan dunia di luar rumah yang terpagar besi besar menjulang tinggi itu," kata Rosmiyati, saat ditemui di rumahnya, Kamis (15/2).
Menurutnya, ada beberapa anak yang sebenarnya hampir mau lulus, namun karena orangtua mereka ikut kelompok itu, anak-anak tersebut tidak melanjutkan sekolahnya.
Beberapa anak yang tidak jadi lulus karena harus ikut kelompok tersebut di antaranya masih SD dan STM.
Rosmiyati menambahkan, kebanyakan penghuni rumah itu merupakan orang-orang atau keluarga yang berasal dari luar kota.
"Yang jelas ada dari Purwodadi (Grobogan), sebagian besar dari luar kota. Anak-anak yang tinggal di situ enggak boleh keluar rumah. Bahkan, untuk sekolah saja enggak boleh. Akhirnya, tidak sekolah. Padahal, beberapa anak tersebut ada yang mau lulus SD dan STM," terangnya.
Atas kejadian ini, 43 orang yang terlibat kelompok tersebut telah dimintai keterangan oleh petugas Polsek Pedurungan.
Mereka semua diminta menandatangani surat pernyataan agar tak melakukan kegiatan serupa kembali.
Baca: BREAKING NEWS, Polsek Pedurungan Amankan Warga Diduga Ajarkan Aliran Sesat di Palebon
Tak gubris datangnya tamu
Penggerebekan warga yang diduga menganut aliran sesat di sebuah rumah No 7 RT 1 RW 11 Palebon, Pedurungan, Semarang, Rabu (14/2) malam membuat gempar masyarakat sekitar.
Andi Rodiyono (63), seorang pemimpin kelompok yang juga pemilik rumah tersebut telah diperiksa oleh Polsek Pedurungan untuk penyelidikan lebih lanjut.
Andi Rodiyono memiliki kebiasaan yang janggal di mata warga sekitar. Penghuni rumah tersebut, tidak diizinkan bersosialisasi dengan warga sekitar.
Dari penggerebekan, polisi mengamankan 43 orang yang diduga anggota kelompok tersebut, termasuk si pemilik rumah, Andi.
Penggerebekan itu dilakukan polisi karena laporan warga sekitar yang resah akan aktivitas yang dilakukan anggota kelompok tersebut.
Dalam berpenampilan, anggota kelompok itu harus mengenakan jarit (kain batik) bagi perempuan dan sarung untuk laki-laki.
Lewat keterangan warga sekitar bernama Arifin, mereka yang tergabung kelompok tersebut harus mengikatkan jarit (perempuan) dan memakai sarung (laki-laki) dalam model apapun.
"Yang perempuan biasanya mengenakan jarit, meskipun sudah pakai celana maupun baju. Sedangkan, yang laki-laki harus mengenakan sarung, meskipun hanya disampirkan," tutur Arifin.
Warga menduga kelompok itu menerapkan aliran sesat karena tak mau bersosialisasi.
Tak hanya itu, para anggotanya pun dilarang keluar rumah untuk menjalankan aktivitas layaknya orang kebanyakan.
"Mereka tak mau bersosialisasi dengan orang lain di luar rumah. Bahkan pernah ada keluarga dari salah satu anggota yang datang, tidak dibukakan pintu hingga keluarga tersebut menangis karena tak bisa bertemu," papar Arifin.
Ia yang tinggal bersebelahan dengan kediaman Andi mengaku tak tahu aktivitas penghuni atau anggota kelompok itu.
Hal itu dikarenakan kondisi rumah tertutup rapat dengan pagar besi besar yang terpasang dengan sangat rapat dan menjulang tinggi.
Orang yang tinggal di rumah itu juga tidak peduli dengan aktivitas warga di sekitarnya. Meskipun, rumah yang dihuni kelompok tersebut tepat berada di depan rumah ibadah, masjid.
"Yang meresahkan itu sebenarnya karena ada keluarga dari anggota kelompok itu datang, lalu tidak digubris. Bahkan, pernah ada yang menangis sambil teriak-teriak mencari anaknya. Namun tetap saja tidak dibukakan pintu," lanjut cerita Arif, sapaan akrabnya.
Beberapa kali didatangi polisi
Andi Rodiyono (63), pemimpin kelompok yang diduga menganut aliran sesat yang juga pemilik rumah tersebut telah diperiksa oleh Polsek Pedurungan untuk penyelidikan lebih lanjut.
Di balik penggerebekan itu, ternyata ada fakta-fakta lain yang cukup mencengangkan. Lewat keterangan tetangga bernama Arifin, sebelumnya polisi sudah menggerebek rumah itu.
"Jadi rumah berpagar besi besar menjulang tinggi dan rapat itu sudah tiga kali didatangi oleh Polisi. Kedatangan polisi yang ketiga baru bisa tembus ke dalam rumah," ucap Arifin, Kamis (15/2).
Menurutnya, rumah tersebut tidak bisa dijangkau dan dilihat oleh orang luar karena pagar besinya besar dan menjulang tinggi.
Ia menjelaskan, kondisi rumah yang terisolasi dari kehidupan warga sekitar itu sudah berlangsung sejak tiga bulan yang lalu.
Dari keterangan warga sekitar, rumah tersebut sebelumnya adalah sebuah bengkel mobil yang dimiliki oleh Andi.
Namun tiga bulan terakhir ini, bengkel tersebut tak kunjung buka. Selain itu, para penghuninya pun tak pernah keluar dari rumah selama tiga bulan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/aliran-sesat-di-semarang_20180215_121451.jpg)