Ini yang Dirasakan Seorang Petugas Call Center Ketika Mendapati Pelanggan Bawel
Protes merupakan tanda bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang pelanggan yang bawel. Tapi ia tidak pernah mengaku balik memarahi
Penulis: Puspita Dewi | Editor: m nur huda
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Wilujeng Puspita Dewi
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Menjadi seorang penjaga gawang yang bekerja di perusahaan provider, kerap diprotes dan kena marah adalah hal lumrah yang biasa dialami oleh seorang petugas call center.
Greisella Meiranda (20), seorang petugas call center yang bekerja di sebuah perusahaan provider di Jalan Pandanaran Nomor 131 Semarang, Jawa Tengah, mengaku suka gregetan begitu customer sudah protes dengan panggilan bapak atau ibu yang dilontarkan.
"Sapaan bapak atau ibu adalah sapaan resmi dan sudah menjadi peraturan perusahaan. Tetapi apabila customer protes, kita harus menurutinya," ungkapnya saat ditemui Tribunjateng.com pada Senin (19/2/2018).
Bagi Greisella, protes merupakan tanda-tanda bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang pelanggan yang bawel. Meski demikian, Greisella mengaku tidak pernah kesal apabila ada seorang pelanggan marah-marah padanya.
"Pelanggan yang menelepon kami, sudah pasti memiliki masalah. Sebagai call center, kita maklum dan sadar kalau masalah memang bersanding tidak jauh dari amarah," tutur Greisella.
Ketika menemukan pelanggan yang sedang marah, yang dilakukannya adalah tidak memotong pembicaraannya. Kemudian meredam emosinya dengan permintaan maaf, selanjutnya menganalisa masalahnya. Setelah itu memberikan solusi.
Yang ia sedihkan adalah ketika pelanggan tetap mencaci dan melontarkan hinaan sampai ke pribadinya.
Kendati demikian, ia tidak diperkenankan untuk menasihati pelanggan yang mencaci. Ia dituntut untuk memberikan solusi terhadap keluhan pelanggan.
"Kita hanya boleh menanggapi keluhan providernya," ungkapnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/greisella-meiranda_20180219_142044.jpg)