Minggu, 19 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Liputan Khusus

KISAH: Strategi Penjual Narkoba untuk Kelabui Petugas

Selain itu, tak sedikit pelaku yang ditangkap, kemudian diperas dengan besaran rupiah tertentu jika ingin bebas.

tribunjateng/dok
Ilustrasi 

TRIBUNJATENG.COM - Seorang pengedar sabu yang menjadi narasumber eklusif Tribun Jateng, Alex menyatakan, dalam dunia sabu ada berbagai istilah yang kerap dipakai untuk penyamaran transaksi, sekaligus mengelabuhi petugas.

Istilah itu seperti satu gram sabu yang kerap disebut 1F. Selain itu ada juga sebutan STNK untuk setengah gram sabu. Sedangkan sabu biasa diistikahkan dengan kata es batu atau ubas.

Menurut dia, untuk ukuran seperempat gram, pemain sabu kerap menyebutnya dengan istilah Supra. Sedangkan ukuran lebih kecil 0,15 gram dibilang pahe atau paket hemat yang dapat dibeli dengan harga Rp 150 ribu.

Sabu ukuran pahe sudah cukup digunakan seorang diri. Bahkan bisa dipakai lima sampai enam kali penghisapan panjang. Tergantung pintar tidaknya menyedot, serta cara pembakaran.

"Kalau menyebutnya satu gram, gram kan identik dengan sabu, jadi diubah 1F. Ada juga istilah samirun di kalangan pemakai, atau bahasa jawanya sami-sami urunan buat beli sabu," katanya, kepada Tribun Jateng.

Lalu bagaimana cara mendapatkan sabu bagi para pemain baru atau konsumen anyar? Alex menuturkan, hal itu susah-susah gampang. Terpenting mereka harus lebih dulu mencari teman seorang pemakai.

Sebab, dia menambahkan, penjual tidak asal-asalan memasarkan barang. Mereka cenderung bermain aman dengan mengutamakan pelanggan lama, dan selektif terhadap konsumen anyar.

Konsumen Alex kebanyakan para wanita pemandu karaoke hingga anak-anak sekolah. Bagi para PK, sabu digunakan sebagai obat diet untuk menjaga bentuk tubuh.

Sebab, efek dari sabu dapat membuat orang malas makan, betah begadang, dan tidak pernah merasa capai. Sedangkan dampak buruknya setelah itu membuat pemakai merasa lemas dan tak bertenaga.

"Kalau barang enak atau bagus, ON-nya bisa sampai dua hari. Kalau barang jelek, efek enaknya hanya enam jam. ON itu maksudnya tubuh berkeringat, merasa segar, dan ingin terus beraktivitas," jelasnya.

Menurut dia, sabu tidak membuat kecanduan. Beda halnya dengan putau yang membuat pengguna menjadi sakau jika berhenti mengonsumsi.

Fenomena sekarang ini, Alex menuturkan, pengguna mengonsumsi sabu sebagai penangkal mabuk. Sehingga, cukup banyak konsumen yang setelah mabuk-mabukan mencari sabu supaya mereka bisa langsung beraktivitas normal.

"Terlalu banyak pakai sabu tidak enak, malah pusing. Sekarang ada fenomena sabu jadi tombo mabuk. Sekarang yang bikin laris itu. Langsung bisa hilang rasa pusing dari mabuk. Dulu tidak tahu manfaatnya itu," ucapnya.

Pengalaman paling menarik, Alex mengungkapkan, kadang ia mendapatkan konsumen pemula rekomendasi dari pelanggan tetap. Biasanya ketika berhadapan dengan pemakai pemula, ia kerap dimintai tolong menunjukkan cara pemakaian.

"Jadi ya harus ngajari. Tapi ya gak apa-apa, karena saya bisa dapat gratisan konsumsi bareng," tukasnya, seraya tertawa.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved