Dua Siswa SMAN 1 Semarang yang Dikeluarkan Menolak Pindah Sekolah
Dua siswa SMAN 1 Semarang yang dikeluarkan dari sekolah menolak dipindahkan ke SMAN 11 atau SMAN 13 Semarang.
Penulis: m zaenal arifin | Editor: iswidodo
Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dua siswa SMAN 1 Semarang yang dikeluarkan dari sekolah menolak dipindahkan ke SMAN 11 atau SMAN 13 Semarang.
Mereka ngotot ingin tetap masuk ke sekolah yang menjadi favoritnya yaitu SMAN 1.
Kedua siswa itu yakni Afif dan Anindya. Keduanya merupakan pengurus OSIS di sekolahnya. Untuk itu, kedua siswa bersama orang tua akan berjuang agar bisa kembali ke sekolahnya.
Di antaranya dengan mengadu ke anggota DPD RI, Bambang Sadono, dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Tengah.
Baca: Kesaksian Fitria Sukaesih Ikhwal Penangkapan Adik-adiknya yang Nyabu: Saya Langsung Lemas
Anindya mengatakan, dirinya menolak dua sekokah yang ditawarkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah yaitu SMAN 11 dan SMAN 13.
"Saya tidak mau di sekolah yang ditawarkan. Rekomendasinya SMAN 11, tapi saya tetap ingin di SMAN 1," kata Anin, sapaannya, usai menemui Anggota DPD RI, Bambang Sadono, di Kantor DPD RI Perwakilan Jawa Tengah, Jalan Imam Bonjol, Semarang, Rabu (28/2/2018).
Kasubsie Satgas Antinarkoba OSIS SMAN 1 Semarang itu menuturkan, sebenarnya alasan yang menjadikan pihak sekolah mengeluarkannya juga dilakukan semua pengurus OSIS. Bahkan hal itu juga dilakukan para senior OSIS di setiap periode.
"Selain itu, masuk ke SMAN 1 itu tidak mudah dan imej di sekolah itu juga lebih dibanding sekolah lain. Makanya saya tidak mau dikeluarkan dan ingin tetap di sekolah itu," ujarnya.
Kedatangan Anin ke kantor DPD RI Perwakilan Jawa Tengah juga bersama dengan orang tuanya yaitu Suwondo dan orang tua Afif, Sodikin.
Suwondo menyatakan menolak pilihan yang diberikan pihak sekolah maupun Disdikbud Jawa Tengah agar memindahkan Anin ke SMAN 11 atau SMAN 13. Suwondo meyakini jika anaknya tidak bersalah dan telah didzalimi pihak sekolah.
Baca: Alasan Jokowi Pilih Heru Winarko sebagai Kepala BNN, Inilah Profilnya
"Semua apa yang dilakukan anak saya tidak salah. Itu sistem pembelajaran, tugas OSIS. Itu bukan kesalahan. Saat itu sudah ditawarkan kepada yunior yang melakukan kesalahan, mau push up, lari atau tampar. Mereka pilih hukuman tampar. Dan itu pun bukan tamparan beneran," kata Suwondo.
Suwondo bersikukuh agar Anin tetap masuk ke SMAN 1. Ia menegaskan hal itu sudah keputusan bersama Anin. Karenanya, ia akan berjuang terus agar tetap di SMAN 1.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/gapura-sman-1-semarang-di-jalan-menteri-supeno-semarang_20180225_073657.jpg)