Sabtu, 2 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Hadi Luncurkan Buku Berjudul Ratu Kalinyamat, Rainha de Jepara

Hadi Luncurkan Buku Berjudul Ratu Kalinyamat, Rainha de Jepara. Hadi Peraih penghargaan Humas Paling Inspirasional Tingkat Nasional

Tayang:
Penulis: arief novianto | Editor: iswidodo
tribunjateng/arief novianto
Suasana peluncuran buku berjudul Ratu Kalinyamat, Rainha de Jepara karya Hadi Priyanto kado bagi masyarakat Jepara dalam memperingati hari jadi kota ke 469, Rabu (4/4) malam, di Pendapa Kabupaten Jepara. 

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Purna tugas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), tidak membuat penulis Hadi Priyanto, berhenti berkarya.

Peraih penghargaan Humas Paling Inspirasional Tingkat Nasional pada 2015 itu meluncurkan buku yang berjudul 'Ratu Kalinyamat, Rainha de Jepara' sebagai kado bagi masyarakat Jepara dalam memperingati hari jadi kota ke 469.

Peluncuran dilaksanakan pada Rabu (4/4) malam, di Pendapa Kabupaten Jepara.

Hadir dalam kesempatan itu, Sekda Jepara Sholih, Staf Khusus Gubernur Jateng Sunaryo, Kabid Pembinaan dan Pendidikan Disdikpora Jateng Bambang Supriyono, Mantan Bupati Jepara Hendro Martojo. Selain itu juga hadir sekitar 200 tokoh masyarakat, seniman, guru, dan budayawan.

Hadi mengatakan, saat ini pengetahuan masyarakat tentang Ratu Kalinyamat sebagai penguasa Jepara agak minim. Bahan pustaka juga tidak banyak ditemukan.

Hal itu membuat anak-anak tidak bisa belajar banyak tentang sosok Ratu Kalinyamat, kecuali mereka hanya mengenang mitos tapa wudha dan mengenal kedudukannya sebagai Ratu Jepara.

“Apa yang dilakukan Kalinyamat, bagaimana ia melakukan, serta spiritnya tidak banyak diketahui masyarakat. Dalam rangka menjadikan Ratu Kalinyamat sebagai sumber literasi bagi dunia pendidikan, bersama Yayasan Kartini Indonesia, kami menerbitkan buku tentang Ratu Kalinyamat,” kata pria yang juga ketua Yayasan Kartini Indonesia itu.

Harapannya, Hadi menuturkan, buku ini dapat mengisi kekosongan pustaka, baik di sekolah, perpustakaan desa, sehingga mereka akan bisa belajar tentang sejarah kearifan lokalnya daerahnya.

“Dari perjalanan hidup Ratu Kalinyamat kita dapat belajar tentang semangat dan nilai nasionalisme, patriotisme, solidaritas, karakter, integritas, optimisme, keteladanan, kesetiaan, dan bahkan spiritualitas,” paparnya.

Ia mengaku khawatir Ratu Kalinyamat akan dapat dengan mudah dilupakan karena kurangnya buku tentang Ratu Kalinyamat, baik sumber tertulis, sumber artefak, maupun sumber filologi yang bersumber dari tradisi lisan.

“Karena itu sejak 2012 lalu saya mencoba meriwayatkan kembali, agar jejak pengabdiannya pada bangsa tidak semakin dilupakan karena perjalanan waktu,” tuturnya.

Dalam diskusi buku yang dipandu Winenarto, Dekan Fakultas Ilmu dan Bahasa Undip Semarang, Dosen Jurusan Sejarah FIB Undip Semarang Alamsyah mengungkapkan, kebesaran Ratu Kalinyamat yang menjadi penguasa Jepara pada 1549-1579 itu digambarkan orang-orang Portugis sebagai De Kranige Dame, wanita pemberani.

“Penulis Portugis, Diego de Couto, menggambarkan Ratu kalinyamat sebagai Rainha de Jepara, senhora paderosa e rica, Ratu Jepara seorang wanita kaya dan berkuasa, serta dicatat memiliki peran besar dalam melakukan syiar Islam secara damai,” paparnya.

Alamsyah menyatakan, buku Hadi Priyanto mendeskripsikan Ratu Kalinyamat adalah tokoh abad Ke-16 yang berusaha merekatkan semangat kenusantaraan dengan menggunakan media maritim. Eksitensi Ratu Kalinyamat sudah diakui dalam skala lokal, interinsuler, dan internasional.

Tidak berlebihan jika lahirnya buku Ratu Kalinyamat ini akan meneguhkan semangat agar sosok Ratu Kalinyamat tidak hanya menjadi ikon lokal yang sekedar menjadi tokoh kultural, tetapi agar dapat diangkat kembali sebagai pahlawan Nasional.

Sehingg secara de facto dan de jure, ketokohan dan kepahlawanan Ratu Kalinyamat menjadi milik bangsa Indonesia. “Mari kita kembali bersinergi, untuk mengusulkan kembali Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan Nasional,” ucapnya.

Sekda Jepara, Sholih berharap, kehadiran buku itu dapat memberikan klarifikasi tentang mitos topo wudho kepada masyarakat, mengingat mitos itu dibahas khusus dalam buku tersebut.

“Tapa wudha ini hanya sebagai perlambang ratu meninggalkan kemewahan sebagai seorang ratu,” terangnya.

Mantan Bupati Jepara, Hendro Martojo mengapresiasi terbitnya buku Ratu Kalinyamat. Ia berharap buku itu menjadi satu sumber pendidikan karakter di sekolah.

Selain buku Ratu Kalinyamat, sepanjang 2017 sudah ada tiga karya buku yang dihasilkan Hadi Priyanto. Di antaranya Kartini Penyulut Nasionalisme, R.M.P Sosrokartono Putra Indonesia yang Besar, dan Ensiklopedi Toponimi Kabupaten Jepara.

“Ini adalah buku ke-14 saya, dan mudah-mudahan bisa diterima masyarakat Jepara,” tandas Hadi.

Acara peluncuran buku itu juga diramaikan dengan musikalisasi puisi Ode Sang Ratu oleh Dinda Kirana dan Iskak Wijaya, serta geguritan oleh Sunardi KS. (tribunjateng/arief novianto)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved