Investor Lirik Saham Properti, 26 Perusahaan Antre Listing di Bursa Efek Indonesia
Sebanyak 26 emiten yang mengantre di BEI tersebut berasal dari berbagai sektor, termasuk properti.
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Setidaknya sudah ada sekitar 26 perusahaan yang mengantre untuk listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mencatatkan diri paling tidak di tahun 2018.
Sebanyak 26 emiten yang mengantre di BEI tersebut berasal dari berbagai sektor, termasuk properti. Beberapa perusahaan properti misalnya berencana untuk mencatatkan diri di BEI seperti PT Dafam Property Indonesia, PT Kagum Jaya Sakti, PT Wijaya Karya Realty dan PT Kota Satu Property.
Selain perusahaan properti, dua perusahaan yang bergerak di bidang rumah sakit juga berencana untuk mencatatkan diri di BEI, misalnya PT Royal Prima. Selain itu, PT Medialoka Hermina, pengelola rumah sakit Hermina juga berencana untuk mencatatkan diri di BEI tahun ini.
Analis Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji menyebutkan, beberapa perusahaan yang akan IPO ini bisa dilirik berdasarkan sektornya. Menurut Nafan, sektor telekomunikasi masih cukup prospektif di tahun ini.
"Adapun sektor properti sudah mulai bangkit pada awal tahun ini," kata Nafan, Minggu (8/4) kemarin.
Nafan mengatakan beberapa bukti memperlihatkan sektor properti sudah mulai mengalami pemulihan dengan membaiknya kinerja keuangan emiten properti seperti CTRA, BSDE, dan ASRI.
Perusahaan-perusahaan di bidang properti yang akan mencatatkan diri juga berencana memakai pendanaannya untuk melakukan ekspansi. Wika Realty misalnya akan menggunakan dana hasil IPO untuk melakukan ekspansi.
Selain itu, dua calon emiten lain yang berada di sektor properti yakni PT Dafam Property Indonesia dan juga PT Kota Satu Property akan menggunakan pendanaan yang berasal dari IPO untuk melakukan ekspansi bisnis baik dengan mengembangkan rumah tapak, mengakuisisi lahan dan juga memperbesar bisnis perhotelan. Namun, secara jangka panjang, bisnis properti itu akan sangat tergantung pada emiten.
Selain beberapa perusahaan tersebut, perusahaan yang namanya cukup familiar seperti PT Sari Melati Kencana, operator dari ritel cepat saji Pizza Hut dan beberapa anak usaha BUMN di bidang keuangan seperti PT BRI Syariah dan juga PT Asuransi Tugu Pratama ikut mengantre listing di BEI.
Analis Paramita Alfa Sekuritas, William Siregar mengatakan, sektor keuangan dan ritel masih cukup menarik di tahun 2018. "Tahun ini daya beli masyarakat diekspektasikan meningkat sehingga spending masyarakat cenderung lebih besar," kata William kemarin.
Menurutnya, belanja politik juga cukup besar tahun ini sehingga bikin peredaran uang di publik semakin tinggi. Ia memperkirakan, dengan adanya fenomena ini maka sektor keuangan dan juga sektor ritel bakalan kecipratan hal ini.
Selain itu, Bank Indonesia dalam risetnya menyatakan indeks ekspektasi konsumen masih stabil dan hal tersebut punya pengaruh cukup besar bagi kinerja sektor keuangan dan juga ritel. Terkait dengan calon-calon emiten yang ada di BEI, William memilih untuk mempertimbangkan BRI Syariah dan BTPN Syariah apabila dilihat dari sektornya.
Faktor Eksternal
Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhir pekan lalu ditutup di level 6.175,05 turun 0,13 persen dibanding sehari sebelumnya dan melemah 0,23 persen selama sepekan lalu. William melihat pergerakan IHSG saat ini cenderung dipengaruhi faktor eksternal.
Sebab, data-data ekonomi domestik menunjukkan hasil yang positif dan seharusnya bisa mengangkat kepercayaan diri investor untuk masuk, mengingat kondisi dalam negeri tergolong stabil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-properti_20170219_191351.jpg)