Tanggulangi Banjir Rob, Kementerian PUPR Nilai Tol Semarang-Demak Mendesak
Jalan tol Semarang-Demak nantinya akan bersifat multifungsi. Tak hanya menyelesaikan persoalan kemacetan, tapi juga sebagai tanggul laut
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kondisi pesisir antara Kota Semarang hingga Demak yang jadi langganan rob ataupun banjir saat musim hujan, menjadi perhatian serius Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Karena itu, Kementerian PUPR merencanakan pembangunan fisik jalan tol Semarang-Demak bisa dikerjakan mulai 2018 ini. Karena itu, proyek tersebut diharapkan proses lelang bisa selesai sebelum Lebaran mendatang.
Hal itu disampaikan Direktur Jenderal (Dirjend) Bina Marga Kementerian PUPR, Arie Setiadi Moerwanto, Minggu (8/4). Ia menilai pembangunan jalan tol Semarang-Demak cukup mendesak. Mengingat, kondisi daerah tersebut yang selalu terendam banjir dan rob.
Karena itu, Pemerintah mengkonsep pembangunan jalan tol tersebut nantinya multifungsi. Selain berfungsi sebagai jalan tol untuk memecah kemacetan, juga menjadi tanggul laut untuk membendung luapan air laut masuk ke daratan.
"Jalan tol Semarang-Demak nantinya akan bersifat multifungsi. Tak hanya menyelesaikan persoalan kemacetan, tapi juga sebagai tanggul laut. Sehingga Semarang bagian Genuk yang selalu banjir, nanti tidak akan lagi banjir," kata Arie, Minggu (8/4).
Dengan adanya tanggul laut, dikatakannya, jalan tol Semaran-Demak juga bisa berfungsi untuk environmental remediation atau perbaikan lingkungan.
Terkait hal itu, kata Arie, daerah yang terdampak jalan tol sepanjang 27 kilometer nantinya akan diuruk. Dengan demikian, maka akan terbentuk lahan baru yang pemanfaatannya bisa dipakai untuk berbagai hal.
Berawal dari kondisi tersebut, lahan permukiman yang sebelumnya selalu terendam banjir dan rob akan ada perbaikan lingkungan. Dari kondisinya yang kumuh akibat genangan air terus menerus, berubah menjadi kawasan yang bersih dan kering.
"Kawasan yang tadinya kumuh bisa dikembangkan secara baik karena jalan tol ini nanti disatukan dengan sistem pengendalian banjir. Sehingga ada memperbaiki lingkungan, sekalian menciptakan suatu lahan baru," tuturnya.
Arie mengungkapkan, anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan tol Semarang-Demak cukup besar. Dari perhitungannya, setidaknya butuh dana Rp 18 triliun dengan rincian Rp 6,5 triliun untuk pembebasan lahan dan Rp 11,5 triliun untuk pengerjaan fisik.
Begitu Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) selesai, kata dia, pembebasan lahan akan segera dimulai dan dilanjutkan dengan tahapan-tahapan lainnya untuk percepatan pembangunan.
"Pak Menteri menginginkan lelang segera dilakukan dan pembangunan juga dimulai tahun ini. Makanya kami berupaya melakukan percepatan agar pembangunan bisa dimulai," ucapnya.
Dikatakannya, area terdampak pembangunan jalan tol nantinya berupa kawasan tambak dan hutan mangrove yang sangat penting untuk menahan arus air laut. Untuk itu, Kementerian PUPR mengkaji pengembangan teknologi agar nantinya tambak dan mangrove bisa ditempatkan di luar tanggul laut.
"Dengan begitu, nelayan tetap tidak kehilangan mata pencaharian karena akan dikembangkan teknologi di luar tanggul laut yang dibangun di sepanjang jalur tol Semarang-Demak. Termasuk tambak, kan airnya harus asin, juga bisa kembangkan di luar tanggul," ungkapnya.
Untuk itu, pihaknya melakukan pertemuan dengan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, untuk membahas rencana pembangunan jalur tol Semarang-Demak, Jumat (6/4) kemarin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/jalan-tol-bawen-salatiga-13-juni_20170613_194322.jpg)