Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Setelah Cek Lokasi, Rusia Tak Temukan Jejak Serangan Bom Kimia di Douma

Pasukan khusus Rusia tidak menemukan jejak apapun pengggunaan senjata kimia di Douma, Ghouta Timur.

Tayang:
Editor: m nur huda
ilustrasi 

TRIBUNJATENG.COM, BEIRUT - Pasukan khusus Rusia tidak menemukan jejak apapun pengggunaan senjata kimia di Douma, Ghouta Timur. Di lokasi yang diklaim barat sebagai lokasi serangan gas klorin, juga nihil petunjuk.

Kabar terbaru ini diwartakan jaringan Al Masdar News dan Sputniknews mengutip keterangan pihak Rusia, Selasa (10/4/2018) pagi WIB. Mereka menyebut tuduhan serangan gas kimia itu palsu dan klaim sepihak bersumber kelompok White Helmets.

Whiite Helmets ini organisasi penyelamat dan pertolongan pertama yang didirikan seorang mantan prajurit khusus Inggris.

Personilnya berasal dari kelompok-kelompok militan di Suriah, terutama Jabhat al-Nusra atau nama barunya Hayat Tahrir al-Sham.

Anggota kelompok White Helmets terbukti pernah terlibat eksekusi sadis bocah pengungsi asal Palestina di Suriah. Kelompok ini hanya beroperasi di wilayah yang dikuasai kelompok pemberontak.

Informasi dari White Helmets inilah yang jadi rujukan utama AS dan sekutu-sekutunya terkait tuduhan serangan kimia oleh pasukan Suriah.

Dalam siaran pers Kementerian Pertahanan Rusia, lokasi yang diklaim jadi sasaran serangan kimia di Douma telah didatangi. Wilayah ini telah dibebaskan dari kontrol kelompok pemberontak Jaish al-Islam.

Tidak ada bukti dan petunjuk apapun terkait klaim tersebut. Sebelumnya, seorang dokter Bulan Sabit Merah di rumah sakit pusat Douma, juga mengaku tidak mendengar dan menerima pasien korban serangan senjata kimia.

Juru Bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric, menyatakan PBB belum mendapatkan verifikasi independen terkait klaim serangan kimia di Douma. Kasus ini akan ditangani Organisation for teh Prohibition Chemical Weapons (OPCW).

AS, Inggris, Prancis, termasuk Turki, menuduh Damaskus menggunakan senjata kima klorin di Douma. Presiden AS Donald Trump menyebut Bashar Assad sebagai binatang, dan menyatakan Rusia dan Iran harus bertanggungjawab.

Dalam pernyataan terbarunya, Trump menegaskan, mereka siap merespon laporan serangan kimia ini dengan kekuatan pemaksa.

"Kita punya beberapa pilihan secara militer," kata Trump di Wahington, dikutip Russia Today. Trump menambahkan, tanpa persetujuan PBB, mereka akan lakukan langkah bersenjata ke Suriah.

Narasi serangan kimia ini juga jadi preteks serangan udara jet tempur Israel, Senin (9/4/2018) dini hari, yang mengenai sasaran pangkalan udara T4 di Provinsi Homs, Suriah.

Serangan ini menewaskan 14 personil militer Suriah, Iran, dan anggota Hezbollah Lebanon. Sistem pertahanan udara Suriah menangkis lima di antara 8 rudal yang diluncurkan Israel dari wilayah Lebanon.(Tribunjogja.com/AMN/Sputniknews/xna)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved