Selasa, 21 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Dalam Sehari Pabrik Kerupuk Milik Edi Mampu Memroduksi 1,2 Ton, Jadi Oleh-oleh Khas Kendal

Kabupaten Kendal mempunyai industri krupuk yang produksinya mencapai 1,2 ton tiap harinya

Penulis: Dhian Adi Putranto | Editor: muslimah
Tribunjateng.com/Dhian Adi Putranto
Proses pengemasan kerupuk oleh pekerja pabrik kerupuk. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Dhian Adi Putranto

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Masyarakat Indonesia sudah akrab dengan makanan ringan yang diberi nama Kerupuk. Kerupuk hampir selalu hadir di setiap penyajian makanan utama dalam tiap penjamuan.

Bahkan tak hanya itu, ketenaran kerupuk sendiri membuat makanan berbahan dasar tepung tapioka itu menjadi makanan idola masyarakat Indonesia.

Kabupaten Kendal mempunyai industri krupuk yang produksinya mencapai 1,2 ton tiap harinya. Kerupuk dengan jenis kerupuk petis ini diproduksi di RT 2 RW 3 Kelurahan Sijeruk, Kendal.

Pabrik Kerupuk yang mampu membuat produksi sebanyak itu merupakan milik Edi Warjiyanto. Pabrik yang telah bediri sejak 20 tahun yang lalu itu merupakan pabrik milik ibunya yang diturunkan kepadanya.

Pria dengan 3 anak itu menuturkan waktu awal dia mengambil alih produksi itu yakni pada tahun 1998, dirinya hanya mampu memproduksi hanya satu kuintal dalam seminggu.

Permintaan yang sangat tinggi membuat ia terus-menerus peningkatan produksi kerupuk khas kendal itu.

Seorang pekerja mengolah adonan tepung tapioka untuk menjadi kerupuk
Seorang pekerja mengolah adonan tepung tapioka untuk menjadi kerupuk (Tribunjateng.com/Dhian Adi Putranto)

"Saat ini sudah membuka 3 cabang pabrik pembuatan krupuk, diantarany di kelurahan Tunggulrejo dan dua pabrik di desa Cempokomulyo, gemuh," ujarnya.

Dalam produksinya itu, pria itu membuat dua aneka kerupuk petis, yakni kerupuk petis udang dan kerupuk petis ikan. Sering kali kerupuk produksinya itu dibeli oleh Tenaga Kerja Indonesia untuk oleh-oleh saat kembali ke negara tempat mereka berkerja.

"Yang paling banyak pesan sendiri warga kendal, namun luar kota seperti Jepara, Semarang, Pekalongan, Solo serta Yogyakarta sering memesan kerupuk juga," terangnya.

Alat Produksi yang ia gunakan bisa dibilang masih manual. Untuk proses pembuatan adonan hingga mengemasan semuanya dikerjakan oleh tenaga manusia. Oleh sebab itu untuk membuat kerupuk sebanyak 1,2 ton ini membutuhkan jumlah pekerja mencapai 25 orang.

Proses pengemasan kerupuk oleh pekerja pabrik kerupuk.
Proses pengemasan kerupuk oleh pekerja pabrik kerupuk. (Tribunjateng.com/Dhian Adi Putranto)

"Kami mengemasnya dengan ukuran seperempat kilo tiap kemasan dan dijual dalam bentuk satu paket yang isinya sebanyak 20 buah atau 5 Kg dengan harga Rp 72 ribu rupiah," terangnya.

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan produksi itu, dalam pembelian satu kali bahan baku ia harus membeli tepung tapioka sebanyak 9 ton. Tepung tapioka itu ia beli langsung dari desa Ngemplak kabupaten Pati sedangkan untuk bahan dasar ikan dan udang ia ambil langsung dari kabupaten kendal.

Sementara itu, Ahmad seorang pekerja pabrik tersebut, tangannnya tak berhenti meninju adonan kerupuk itu. Hal itu ia lakukan agar adonan menyatu dengan sempurna saat proses perebusan.

"Jadi setelah ini (proses peninjuan) adonan dimasukan dalam rebusan air yang mendidih setelah itu ditiriskan dan didiamkan. Selanjutnya dipotong-potong dan dijemur," terangnya

Pria yang telah bekerja selama tiga tahun di pabrik milik Edi menuturkan dalam proses pembuatan kerupuk petis itu, kerupuk mengalami dua proses penjemuran yakni penjemuran setelah diiris dan penjemuran setelah dibumbui.

"Setelah itu baru kerupuk masuk dalam proses pengemasan dan siap dipasarkan," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved