Puluhan Tahun Hilang, Begini Keharuan Keluarga Parinah saat Kembali ke Cilacap
Satu persatu anak Parinah bergantian memeluk erat ibunya, pelukan pertama setelah 18 tahun silam
Penulis: khoirul muzaki | Editor: muslimah
Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki
TRIBUNJATENG.COM, CILACAP - Tangis keluarga dan tetangga seketika pecah, saat seorang perempuan tengah baya turun dari mobil di depan sebuah rumah, Desa Nusawungu Kecamatan Nusawungu Cilacap.
Wajah Parinah masih seperti yang dulu, menurut Parsin (33), anak yang ditinggalkanya sejak usia 14 tahun. Hanya ia agak pangling lantaran ibu yang selalu dirindukannya itu terlihat lebih kurus.
Juga kulitnya yang mulai keriput.
Rambut kepala Parinah yang memutih menegaskan, penantian untuk bertemu keluarga itu bukan waktu yang sebentar.
"Masih seperti dulu, cuma ibu terlihat lebih kurus,"kata Parsin, anak kedua Parinah
Sebuah baskom berisi air bening diletakkan di depan pintu. Sebelum melangkah memasuki rumah, anak-anaknya saling berebut mencuci telapak kaki sang bunda dengan air itu.
Sunarti, si sulung langsung bersimpuh di kaki ibunya.
Hamdan mengusal kaki ibunya dengan sentuhan lembut.
Ia lalu membasuh mukanya dengan air yang diberkahi tersebut.
Satu persatu anak Parinah bergantian memeluk erat ibunya, pelukan pertama setelah 18 tahun silam, saat anak-anak Parinah masih bau kencur.
Saat itu, ia memeluk anak-anaknya sebelum pamitan untuk merantau ke luar negeri.
Jika anak-anaknya tak pangling dengan wajah ibunya, tidak demikian cucunya.
Angga Rivaldi Saputra (14), cucu Parinah seketika berurai air mata saat melihat wajah neneknya untuk pertama kali.
Ia lahir tanpa kehadiran nenek di sisi. Ia tentu iri, anak sepantarannya mendapat kasih sayang berlipat dari orang tua dan nenek.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/parinah-ketemu-dengan-keluarganya-di-nusawungu-cilacap_20180412_133329.jpg)