Mantab! Wayang Golek Buatan Teguh Jadi Primadona Ki Enthus dan Para Dalang Kondang
Dari tangan terampil Teguh, banyak dalang kondang memesan wayang buatannya.
Penulis: budi susanto | Editor: m nur huda
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Budi Susanto
TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Seorang pria paruh baya nampak duduk di sebelah alat-alat pahat kayu yang tertata rapi.
Di sekeliling pria tersebut tersusun potongan kayu dan sisa-sisa serutan bekas pahatan kayu.
Selain itu, beberapa wayang golek terjejer di tempat yang sudah tersedia.
Selang beberapa waktu pria tersebut mengambil alat pahat yang sudah ada di depannya, Sabtu (14/4/2018).
Ia nampak serius dan memerhatikan alat-alat yang digunakan untuk memahat. Setelah memastikan alat-alatnya tajam, pria bernama Teguh Abadi (37) langsung mengambil kayu dan mulai memahat.
Kayu yang awalnya tak berbentuk lama-kelamaan berubah menyerupai sosok tokoh pewayangan.
Dari tangan terampil Teguh, yang sudah puluhan tahun bergelut dengan dunia pembuatan wayang golek, banyak dalang kondang memesan wayang buatannya.
Sembari menghaluskan karyanya menggunakan amplas, Teguh menuturkan, selain dalang dari daerah Batang, dalang dari Jawa Barat dan Tegal kerap memesan wayang buatanya.
"Kalau dibilang satu-satunya di Kabupaten Batang memang benar karena sudah tidak ada yang mau meneruskan membuat wayang golek, biasanya para dalang memesan jauh-jauh hari, Ki Enthus Susmono juga sering memesan wayang buatan saya," ujarnya.
Dari gubuk kecil yang terletak di Dukuh Kijingan, Desa Siwatu, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, Teguh mempraktikan apa yang sudah diajarkan oleh sang ayah.
"Dulu diajari oleh ayah saya, karena ayah saya juga pengrajin wayang golek, awalnya hanya membantu membuat, tapi 10 tahun terakhir saya mulai menjual ke para dalang wayang golek," paparnya.
Ayah satu anak tersebut menambahkan, pernah mendapat order dengan harga ratusan juta dari Pemalang dan membuat sekitar 100 karakter wayang golek.
"Tahun lalu saya dapat order membuat satu set berisi 100 karakter, kalau ditotal harganya sekitar Rp 120 juta, dengan proses pembuatan untuk satu karakter empat hari hingga satu minggu," jelasnya.
Bahan yang digunakan Teguh untuk membuat wayang dari beberapa jenis kayu yaitu kayu sengon, kayu pule dan kedondong jaran.
"Yang paling susah dicari adalah kayu kedondong jaran, di Batang sendiri tidak ada saya mencari sampai ke Kabupaten Pekalongan dan Pemalang," ujarnya.
"Kadang ada juga yang memesan wayang khusus sesuai keiingan dalang, seperti Ki Enthus, saya sampai dipanggil ke rumahnya hanya untuk membuat dua karater yang sesuai keiingannya," tuturnya.
Pria kelahiran 18 Desember 1981 tersebut prihatin akan kepedulian anak muda yang tidak mau meneruskan kebudayaan leluhur.
"Kalau tidak ada yang meneruskan pasti akan punah, dan jangan sampai diambil oleh negara lain, saya membuka pintu lebar-lebar jika ada yang ingin belajar membuat Wayang Golek supaya ada generasi penerus," tegasnya.
Selain geliat dari pemuda yang kian lesu, ia berharap pemkab bisa berperan aktif dalam pelestarian budaya terutama Wayang Golek.
"Kalau dihitung rugi atau untung pasti rugi, karena butuh waktu lama dan harus teliti untuk membuat wayang golek, kadang hanya dihargai Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta untuk satu wayang, namun saya akan tetap membuat wayang walaupun digerus era modern," kata Teguh.
Pihaknya sangat berharap ada pihak yang membantu pemasaran ataupun pembentukan sanggar pembuatan wayang.
"Kalau ada pihak yang membantu untuk pemasaran atau edukasi seperti sanggar pasti saya dengan senang hati ikut, siapa lagi kalau tidak anak muda yang bisa melestarikan kebudayaan leluhur," ujarnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/teguh-abadi-saat-membuat-wayang-golek-di-dalam-rumahnya_20180414_174334.jpg)