Penemuan Mayat

Identitas Perempuan Hanyut di Sungai Serayu Wonosobo Terungkap

Kapolsek Mojotengah AKP Widayatno mengungkapkan, mayat tersebut pertana kali dilihat oleh seorang pemancing di Sungai Serayu.

Identitas Perempuan Hanyut di Sungai Serayu Wonosobo Terungkap
tribunjateng/khoirul muzaki/ist
Aparat Polsek Mojotengah dan Polres Wonosobo akhirnya berhasil mengidentifikasi jenazah yang hayut di aliran Sungai Serayu, Desa Sukorejo Kecamatan Mojotengah, Kamis (26/4) kemarin. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Aparat Polsek Mojotengah dan Polres Wonosobo akhirnya berhasil mengidentifikasi jenazah yang hayut di aliran Sungai Serayu, Desa Sukorejo Kecamatan Mojotengah, Kamis (26/4) kemarin.

Korban adalah Tukini (60), warga kampung Mekarsari Kelurahan Kalibeber Mojotengah. Hal ini diketahui setelah pihak keluarga mendengar kabar dari polisi perihal penemuan mayat itu, juga melihat langsung jenazah di Kamar Mayat RSUD Wonosobo.

Kapolsek Mojotengah AKP Widayatno mengungkapkan, mayat tersebut pertana kali dilihat oleh seorang pemancing di Sungai Serayu. Ia melihat sesosok tubuh yang tertelungkup di aliran sungai.

"Setelah dicek, ternyata sudah meninggal dan kemudian dilaporkan kepada kami," katanya.

Polsek Mojotengah bersama Koramil, Tim Medis Muskesmas dan SAR Mojotengah kemudian melakukan evakuasi dan pemeriksaan luar. Karena tidak ditemukan luka bekas penganiayaan,pihaknya kemudian membawa korban ke RSUD Wonosobo.

Selanjutnya, diterangkan Kapolsek, polisi kemudian menyebarkan informasi tersebut kepada masyarakat sekitar Mojotengah agar identitas korban segera terungkap.

"Akhirnya, pada sore harinya kami mendapatkan pengakuan dari salah seorang warga yang mengaku ibunya belum pulang sejak pagi hari. Kami kemudian membawa keluarga korban ke RSUD Wonosobo untuk memastikan," terangnya.

Disinggung mengenai penyebab kematiannya, AKP Widayatno mengungkapkan, dugaan penyebab kematiannya karena terpeleset jatuh dan tenggelam di Sungai Serayu.

"Kaami tidak bisa memastikan, karena pihak keluarga korban sendiri menolak adanya otopsi," katanya.

Keengganan keluarga korban untuk otopsi karena menganggap kejadian ini merupakan kecelakaan. "Ini juga merupakan takdir dari Allah SWT. Jadi kami menerima saja," kata anak korban, Slamet Faizun. (*)

Penulis: khoirul muzaki
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved