Rabu, 6 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Siapa Suami RA Kartini? Banyak yang Tidak Tahu, Begini Penilaian Deddy Corbuzier

Pria 41 tahun itu juga mengutip perkataan Ir Soekarno "Negara yang besar negara yang menghargai pahlawan-pahlawannya."

Tayang:
Penulis: Awaliyah P | Editor: abduh imanulhaq
YOUTUBE/DEDDYCORBUZIER
Deddy Corbuzier menjawab pertanyaan tentang kenapa makin banyak artis alay melaui vlog pribadinya 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, I. Awaliyah Pimay

TRIBUNJATENG.COM - Deddy Corbuzier kembali mengunggah video di channel pribadinya.

Video berdurasi hampir empat menit itu memperlihatkan adegan sebuah acara televisi yang akhir-akhir ini sempat diperbincangkan.

Dalam video, ada Azka memberikan komentar atas video heboh itu.

"What the hell is that? That's sexual harrashment. That's not supposed to be in TV. Oh my God!"

"Apa itu? Itu adalah pelecehan seksual. Tidak seharusnya itu ditayangkan di televisi. Ya Tuhan!"

Namun Deddy menuturkan dirinya tidak akan membahas adegan itu di videonya.

Deddy kemudian menampilkan cuplikan saat dirinya dan Revina diberi pertanyaan siapa suami dari adik Raffi Ahmad.

Revina adalah selebgram yang dikenal dengan julukan Ratu Nyinyir.

Saat itu baik Deddy ataupun Revina tidak bisa menjawab siapa suami dari adik Raffi Ahmad.

Penonton kemudian memberikan jawaban nama suami Syahnaz.

Deddy kemudian kembali memberikan pertanyaan untuk penonton.

Pertanyaan tersebut adalah sosok suami dari RA Kartini.

Namun saat ditanya Deddy tentang suami RA kartini tidak ada yang mengetahuinya.

"Isnt't that funny?" (tidakkah itu lucu?) tanya mantan suami Kalina Octaranny.

Deddy mengaku tidak menyalahkan penonton yang memang mayoritas ABG.

"Saya ga nyalahin penonton tersebut karena merka abg abg yang masih muda yang sehari-harinya nonotn infotainment atau main media sosial yang isinya bombardir tentang selebritis yang ada di Indonesia." jelasnya.

Yang menjadi inti dari videonya adalah Deddy mempertanyakan siapa yang patut disalahkan.

"Siapa yang salah di sini? Can you put a comment? (Bisakah kalian memberi komentar?) Karena saya ingin tahu siapa yang salah di sini." tanyanya.

Deddy mempertanyakan apakah ini termasuk kesalahan penonton atau media.

Atau bahkan salah pemerintah yang mungkin tidak terlalu peduli untuk mempertahankan unsur-unsur budaya dan kepahlawanan?

Pria 41 tahun itu juga mengutip perkataan Ir Soekarno "Negara yang besar negara yang menghargai pahlawan-pahlawannya."

Deddy lantas berpikir alangkah baiknya jika ada sinetron yang mengusung cerita tentang Kartini dan pahlawan-pahlawan yang ada di Indonesia.

"Mungkin harus dibikin sinetron tentang kartini lalu dimasukkan TV, lalu ceritanya dibuat menarik supaya anak-anak muda nonton lagi so they know the history the hero that built this country. (jadi mereka tahu sejarah pahlawan yang mendirikan negara ini.)" usulnya.

Pria yang pernah dikabarkan dekat dengan Chika Jessica itu mengaku memerlukan waktu lebih dari sehari untuk mendapat jawaban yang cocok.

Hingga akhirnya satu jawaban terlintas.

Deddy menilai mungkin ekosistem yang salah.

"May be ekosistemnya salah, kita sebagai penonton salah, TV salah, media salah, guru sejarah salah, pemerintah salah. Semuanya salah." jelasnya.

Lebih lanjut ia menambahkan "Mungkin kita sudah tidak peduli lagi dengan itu semua. Mungkin suatu saat nanti we dont even care siapa pahlawan di negara kita like seriously we dont even care anymore. Isn't it so sad?"

Hingga berita ini dirilis, video Deddy Corbuzier sudah disukai lebih dari 4.000 pengguna Youtube dan ditonton lebih dari 30 ribu kali.

RA Kartini merupakan sosok pahlawan perempuan.

Nama lengkapnya adalah Raden Adjeng Kartini.

Ia lahir di Jepara pada 21 April 1879 dan meninggal di Rembang pada 17 Semptember 1904.

Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Dilansir dari Wikipedia, Raden Adjeng Kartini berasal dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa.

Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera setelah Kartini lahir.

Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama.

Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari NyaiHaji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.

Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.

Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat ditilik kembali ke istana Kerajaan Majapahit.

Semenjak Pangeran Dangirin menjadi bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek moyang Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di Pangreh Praja.

Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong.

Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan.

Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura.

Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri.

Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua.

Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun dan dikenal pada pertengahan abad ke-19 sebagai salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya.

Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa.

Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School).

Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda.

Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya.

Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa.

Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Oleh orangtuanya, Kartini dijodohkan dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri.

Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903.

Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904.

Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun.

Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini".

Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved