FOCUS

Gonjang-ganjing Rupiah

Gonjang-ganjing Rupiah. Kondisi ini tak pelak memunculkan spekulasi Indonesia akan mengalami krisis seperti tahun 1998.

Gonjang-ganjing Rupiah
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
RUSTAM AJI wartawan Tribun Jateng 

Tajuk ditulis oleh Wartawan Tribun Jateng, Rustam Aji

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dalam beberapa hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) terus bergerak melemah hingga menyentuh level Rp 14.000 per USD. Kondisi ini tak pelak memunculkan spekulasi Indonesia akan mengalami krisis seperti tahun 1998.

Namun, pemerintah mengatakan, hal itu terjadi karena dipengaruhi faktor eksternal seperti rencana kenaikan suku bunga acuan The Fed. Bahkan, Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) menilai ada sisi positif dengan turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, yakni pendapatan ekspor akan meningkat.

Pernyataan JK tersebut, bisa dikata seolah memberi “harapan palsu” di tengah gonjang-ganjing nilai tukar rupiah. Mengingat, hanya segelintir orang yang akan diuntungkan sementara akan lebih banyak yang dirugikan akibat turunnya nilai mata uang Indonesia ini. Sebab, kalau memang turunnya nilai rupiah berdampak positif, kenapa pemerintah selalu intervensi terhadap rupiah?

Sejumlah pengamat ekonomi berpendapat bahwa turunnya nilai tukar rupiah terhadap USD lebih dipengaruhi oleh faktor insternal sendiri, di antaranya optimisme Indonesia menargetkan petumbuhan ekonomi 2018 di atas 5 persen. Hal ini dinilai sebagai sebuah “janji semu” mengingat sejatinya fundamental ekonomi Indonesia tidak sebagus sebagaimana digambarkan. Hal itu bisa dilihat dari daya beli masyarakat yang masih rendah. Karena itulah kenapa kemudian pasar meresponnya secara negatif.

Sementara itu, merespon turunnya nilai tukar rupiah, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio mengatakan, salah satu cara meningkatkan permintaan rupiah adalah dengan menaikkan suku bunga acuan BI 7 Days Repo Rate. Langkah ini bisa menjadi salah satu solusi atas dua kondisi yang mendorong sentimen pelemahan rupiah.

Bila langkah itu benar-benar diambil, maka seolah pemerintah tidak memiliki solusi lain. Sebab, dengan menaikkan suku bunga, justru akan memicu kepanikan pasar. Apalagi, sifat bank-bank di Indonesia akan sangat cepat merespon kebijakan itu dengan menaikkan suku bunga kreditnya, sementara ketika ada penurunan suku bunga acuan mereka sangat lambat meresponnya dengan berbagai alasan.

Hal itu tentu akan sangat merugikan masyarakat. Apalagi, sejumlah komoditi sejak beberapa waktu lalu telah naik harganya dan susah untuk turunnya. Menjelang Ramadan, hampir semua barang komoditas juga naik. Kalau kemudian ini masih ditambah dengan kenaikan suku bunga acuan, maka tidak menutup kemungkinan harga barang akan naik berlipat-lipat. Maka, secara tidak langsung, yang paling terdampak adalah masyarakat kecil.

Karena itu, dibutuhkan sebuah solusi yang “menyejukkan” dari pemrintah untuk mengatasi dampak pelemahan rupiah. Jangan sampai, solusi yang dihadirkan tidak mencerdaskan seperti sebelum-sebelumnya, umpamanya ketika harga cabai naik, masyarakat disuruh tanam cabai, ketika beras naik masyarakat diminta beralih ke makan selain nasi. Dan, jangan sampai masyarakat diminta untuk berbisnis racun kalajengking karena nilai ekspor lagi menguntungkan. (tribunjateng/cetak/aji)

Penulis: rustam aji
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved