Ki Enthus Susmono Meninggal Dunia
Inilah Profil dan Karya-karya Ki Enthus Susmono Bupati Tegal Petahana Sekaligus Dalang Kondang
Kabar meninggalnya Bupati petahana, Ki Enthus Susmono menyisahkan duka di hati masyarakat.
Penulis: Awaliyah P | Editor: abduh imanulhaq
Kakek moyang Enthus, R.M. Singadimedja juga merupakan dalang terkenal dari Bagelen pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat di Mataram.
Pria yang akrab disapa Ki Enthus ini menjadi salah satu dalang kondang dan terbaik yang ada di Indonesia.
Ki Enthus memiliki gaya yang khas yakni kombinasi sabet wayang golek dan wayang kulit membuat pertunjukannya berbeda dengan dalang-dalang lainnya.
Selain itu, Ki Enthus juga memiliki kemampuan dan kepekaan dalam menyusun komposisi musik, baik modern maupun tradisional.
Kekuatan mengintrepretasi dan mengadaptasi cerita serta kejelian membaca isu-isu terkini membuat gaya pakeliran-nya menjadi hidup dan interaktif.
Didukung eksplorasi pengelolaan ruang artisitik kelir menjadikannya lakon-lakon yang ia bawakan bak pertunjukan opera wayang yang komunikatif, spektakuler, aktual, dan menghibur.
Pada tahun 2005, dia terpilih menjadi dalang terbaik se-Indonesia dalam Festival Wayang Indonesia yang diselanggarakan di Taman Budaya Jawa Timur.
Dan pada tahun 2008 ini dia mewakili Indonesia dalam event Festival Wayang Internasional di Denpasar, Bali.
Ia adalah salah satu dalang yang mampu membawa pertunjukan wayang menjadi media komunikasi dan dakwah secara efektif.
Pertunjukan wayangnya kerap dijadikan sebagai ujung tombak untuk menyampaikan program-program pemerintah kepada masyarakat seperti: kampanye; anti-narkoba, anti-HIV/Aids, HAM, Global Warming, program KB, pemilu damai, dan lain-lain.
Di samping itu dia juga aktif mendalang di beberapa pondok pesantren melalui media Wayang Wali Sanga.
Kemahiran mendesain wayang-wayang baru/kontemporer seperti wayang George Bush, Saddam Hussein, Osama bin Laden, Gunungan Tsunami Aceh, Gunungan Harry Potter, Batman, wayang alien, wayang tokoh-tokoh politik, dan lain-lain membuat pertunjukannya selalu segar, penuh daya kejut, dan mampu menembus beragam segmen masyarakat.
Ribuan penonton selalu membanjiri saat ia mendalang.
Keberaniannya melontarkan kritik terbuka dalam setiap pertunjukan wayangnya, memosisikan tontonan wayang bukan sekadar media hiburan, melainkan juga sebagai media alternatif untuk menyampaikan aspirasi masyarakat.
Sebagai dalang kondang, Ki Enthus pernah menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang seni-budaya dari International Universitas Missouri, U.S.A, dan Laguna Collage of Bussines and Arts, Calamba, Philipines pada tahun 2005.