Sebelum Meninggal, KH Bukhori Masruri Sempat Mengisi Pengajian di Kudus

KH Bukhori Masruri meninggal dunia di RSI Sultan Agung dan dimakamkan di Sasonoloyo Sambiroto. KH Bukhori adalah manta Ketua PWNU Jateng.

Sebelum Meninggal, KH Bukhori Masruri Sempat Mengisi Pengajian di Kudus
tribunjateng/rahdyan trijoko pamungkas
Suasana pemakaman jenazah KH Ahmad Bukhori Masruri di perumahan Bumi Wanamukti RT IV RW V, Kamis (17/5/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Rahdyan Trijoko Pamungkas

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Suasana duka menyelimuti rumah KH Ahmad Bukhori Masruri di perumahan Bumi Wanamukti RT IV RW V, Kamis (17/5/2018).

KH Bukhori atau Kiai Buchori adalah sosok kiai alumni Ponpes Sarang Rembang, yang kondang sebagai pencipta lagu lagu nasida ria, antara lain Perdamaian, Tahun 2000, Dunia Dalam Berita dan lain-lain.

KH Bukhori Masruri meninggal dunia di Rumah Sakit Islam Sultan Agung pukul 08.30, dan dimakamkan di Sasonoloyo Sambiroto. KH Bukhori adalah manta Ketua PWNU Jateng.

Almarhum wafat di usia 77 tahun meninggalkan satu orang istri, dan tujuh orang anak.

Anak sulung Bukhori, KH Haedar Bukhori menuturkan ayahnya masuk rumah sakit sejak kemarin Rabu (16/5), dan meninggal Kamis (17/5) pagi.

Tidak ada pesan apapun sebelum ayahnya meninggal.

"Waktu itu mau saya ajak ke rumah sakit beliau tidak mau. Beliau pasti bilang aku tak neng omah wae (aku di rumah saja)," ujarnya saat ditemui di rumah duka.

Menurutnya, KH Bukhori Masruri meninggal karena mengidap jantung bocor yang dideritanya cukup lama. Kondisi ayahnya tersebut semakin melemah sejak Jumat (11/5).

"Waktu itu pagi-pagi bapak menyuruh saya ke sini (rumah). Saya menanyakan ada apa malah bapak bilang harus di sini. Saya melihat bapak nafasnya mulai tersengal-sengal dan batuknya kenceng," jelasnya.

Sebelum meninggal, kata dia, ayahnya juga masih sempat akan menghadiri acara pengajian, Jumat (11/5). Bahkan ayahnya juga telah menghadiri pengajian di Luar Kota Semarang.

"Yang jemput saya bilang tiga hari sebelumnya bapak ikut pengajian di Kudus." ujarnya.

Semasa hidup, Kiai Bukhori berpesan agar anak-anaknya menghormati ibunya.

"Saya waktu remaja mau keluar naik motor terus tidak boleh ibu. Tapi saya ngeyel dan kecelakaan. Bapak saya bilang itu kalau tidak nurut ibu," tandasnya. (*)

Penulis: rahdyan trijoko pamungkas
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved