Pilgub Jateng
Petambak Garam Demak Mengeluh Soal Harga Membran, Ini Solusi yang Ditawarkan Ganjar
Kali pertama tiba, Ganjar dipersilakan relawan menyemen batu sebagai pondasi bangunan gudang pengolahan garam.
Penulis: Daniel Ari Purnomo | Editor: m nur huda
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Ganjar Pranowo ngabuburit bareng ratusan petani garam dan relawan di Desa Babalan, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, Sabtu (19/5/2018) sore.
Lokasi ngabuburit, digelar di sekitar gudang garam laut setempat. Yakni berada sebuah bangunan kosong bercat biru laut.
Kali pertama tiba, Ganjar dipersilakan relawan menyemen batu sebagai pondasi bangunan gudang pengolahan garam.
"Kayak pejabat saja, ya. Nyemen batu terus dikeploki (dapat tepuk tangan)," seloroh calon Gubernur Jawa Tengah nomor urut 1 itu.
Seperti biasa, Ganjar tak lupa membuat video blog (vlog) usai menyemen. Dia menceritakan secuil kegiatannya sore itu bareng petani tambak.
Setengah jam menjelang waktu berbuka, Ganjar berdialog dengan para petambak garam. Mereka berdiskusi dalam gudang. Ada sekitar 200-an petani tambak yang turut dalam dialog itu.
Ganjar membuka topik mengenai impor garam laut. Dia mengutarakan keinginan memajukan produksi garam lokal.
"Mosok awet jaman disik awake dewe ora iso gawe uyah? Saya greget, sempat matur menteri perindustrian (Masak dari zaman dahulu kita tidak bisa membuat garam? Saya gregetan, sempat bicara ke Menteri Perindustrian)," ucap Ganjar.
Ganjar meyakini pembangunan pabrik itu dapat memenuhi kebutuhan garam masyarakat. Entah untuk kebutuhan industri, farmasi, maupun rumah tangga.
"Kita mampu kok, meski kualitasnya buruk. Ya kita harus perbaiki kualitas. Contohnya ada teknologi ulir pakai membran, ternyata kualitasnya bisa bagus," ungkapnya.
Petambak Garam Mengeluh
Masih di lokasi yang sama, sejumlah petani tambak garam dan udang menyampaikan keluhan ke Ganjar Pranowo. Salah satunya adalah Romadon, warga Babalan RT 2 RW 2, Wedung, Demak.
Romadon mengutarakan para petambak garam kesulitan membeli membran garam. Alat itu, kata Romadon menjadi modal utama petambak.
"Ya harganya, ya stoknya. Membran itu kan hanya dijual dalam koperasi tambak garam. Kami, para petambak yang tidak memiliki kelompok ini kesulitan membeli, harus jadi anggota dulu," bebernya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ganjar-pranowo-berdialog-bareng-petani-garam-dan-relawan_20180519_192926.jpg)