Selasa, 19 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ramadan 2018

Berusia 202 Tahun, Masjid Besar Suruh Masih Kokoh Berdiri

Didirikan tahun 1816, Masjid Besar Suruh di Kabupaten Semarang memang masih dihiasi keaslian bangunannya dan kokoh berdiri

Tayang:
Penulis: ponco wiyono | Editor: iswidodo
tribunjateng/ponco wiyono
Didirikan tahun 1816, Masjid Besar Suruh di Kabupaten Semarang memang masih dihiasi keaslian bangunannya dan kokoh berdiri 

Laporan wartawan Tribun Jateng, Ponco Wiyono

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Bagi mereka yang pertama kali berkunjung, akan langsung terasa keistimewaaannya begitu mendekat ke halaman masjid. Didirikan tahun 1816, Masjid Besar Suruh di Kabupaten Semarang memang masih dihiasi keaslian bangunannya, mulai dari pintu, jendela, tiang-tiang penyangga hingga beduk yang senantiasa mengingatkan warga sekitar saat jam salat wajib tiba.

Jumat (18/5/2018) siang, warga sudah memenuhi masjid hingga ke bagian teras yang dibangun belakangan. Mereka khusyuk mendengarkan ceramah khatib salat Jumat pada pekan pertama Ramadan. Ceramah disampaikan dalam bahasa Jawa krama halus, dan pada pukul 12.30 lebih sedikit, ibadah Jumat berakhir.

Didirikan tahun 1816, Masjid Besar Suruh di Kabupaten Semarang memang masih dihiasi keaslian bangunannya dan kokoh berdiri
Didirikan tahun 1816, Masjid Besar Suruh di Kabupaten Semarang memang masih dihiasi keaslian bangunannya dan kokoh berdiri (TRIBUNJATENG/PONCO WIYONO)

"Ini dibuat dari satu batang kayu jati utuh, dan sejak awal sampai sekarang belum pernah diganti," kata salah satu takmir masjid, M Zakaria (66) sambil menunjuk daun pintu utama masjid.

Sebenarnya terdapat tiga pintu di masjid tua tersebut, namun saat Tribun berkunjung hanya satu pintu yang dibuka.

Sementara enam lubang jendela berukuran besar terpancang di sisi dan kanan masing-masing pintu. Desain pintu dan jendela yang tinggi dan lebar bisa mengingatkan pada bangunan peninggalan Belanda di Kota Lama, Semarang.

Didirikan tahun 1816, Masjid Besar Suruh di Kabupaten Semarang memang masih dihiasi keaslian bangunannya dan kokoh berdiri
Didirikan tahun 1816, Masjid Besar Suruh di Kabupaten Semarang memang masih dihiasi keaslian bangunannya dan kokoh berdiri (tribunjateng/ponco wiyono)

Zakaria lalu menunjuk ke bagian atas mihrab, yang berisi tulisan berhuruf arab jawi dan aksara Jawa. Menurutnya, tulisan tersebut menggunakan tiga bahasa, yakni Arab, Melayu, dan Jawa.

"Sejak turun temurun tulisan itu dipertahankan karena menjadi penunjuk tentang keaslian tahun pembangunan tempat ini," ungkapnya.

Lelaki paruh baya itu menambahkan, bangunan awal masjid sama sekali tidak menggunakan paku.

Sampai saat ini, keempat tiang penyangga hingga langit-langit masjid masih asli dan direkatkan dengan pasak.

Selain bangunan masjid, dua instrumen yakni beduk dan kentongan disebut takmir lainnya, Achmad Ma'mun (72) juga berusia lebih dari 100 tahun.

"Untuk kentongannya itu dibuat tahun 1889 sesuai angka yang tertera, sementara beduknya itu sejak awal masih belum pernah diganti dan dibuat dari satu lonjor kayu jati," tuturnya.

Satu peninggalan yang paling unik, adalah jam bancet yang dulu digunakan masyarakat setempat untuk mengetahui tibanya waktu salat. Saat ini jam bancet tersebut tidak lagi dipakai dan dibiarkan berdiri di halaman masjid dekat lahan parkir.

Didirikan tahun 1816, Masjid Besar Suruh di Kabupaten Semarang memang masih dihiasi keaslian bangunannya dan kokoh berdiri
Didirikan tahun 1816, Masjid Besar Suruh di Kabupaten Semarang memang masih dihiasi keaslian bangunannya dan kokoh berdiri (tribunjateng/ponco wiyono)

Mengenai pendiri Masjid Besar Suruh, berdasarkan piagam yang terpasang di halaman depan masjid, terdapat nama Kiai Domo yang merupakan seorang bangsawan dari Keraton Surakarta Hadiningat.

Kiai Domo bernama asli Kiai Mas Ngabehi Astrawijaya tersebut awal mulanya mendirikan masjid dengan desain persis seperti Masjid Agung Surakarta.

"Dulu ada pagar kayu memanjang di halaman depan yang sekarang jadi halaman samping, sama seperti yang di Solo itu. Setahu saya beliau memang diutus untuk mendidikan masjid di kawasan sini," kata Ma'mun lagi. (tribunjateng/ponco wiyono)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved