Kecelakaan Maut Bumiayu
Polisi Ungkap Fakta Kecelakaan Bumiayu, Rem Tidak Blong Tapi Kelebihan Muatan 18 Ton
Sopir tak bisa mengendalikan truk warna merah H 1996 CZ itu sehingga menabrak sejumlah kendaraan dan rumah-rumah di sekitar lokasi peristiwa.
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: m nur huda
TRIBUNJATENG.COM, BREBES - Kecelakaan maut di kawasan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Minggu (20/5), mengakibatkan 12 orang kehilangan nyawa.
Satu di antara korban meninggal dunia yaitu seorang dosen muda bernama Hanif Amrullah (27) yang hendak menikah pada 20 Juni mendatang.
Tetangga korban, Yati Nur Afiah (26), mengatakan semua persiapan untuk pernikahan sudah dilakukan.
"Jajanan untuk acara hajatan sudah siap semuanya. Baju pernikahan juga sudah diberikan kepada calon istrinya," kata Yati, ketika ditemui di Brebes, Senin (21/5/2018).
Yang menyedihkan, tambah Yati, sebelum tabrakan maut itu korban sempat mengirimkan foto dirinya kepada sang ibu.
"Dia mengirimkan foto kemudian mengatakan ingin memakai baju koko warna putih, celana putih, dan peci putih," ucapnya. Jenazah korban sudah dikebumikan di pemakaman umum setempat pada Minggu malam.
Hanif Amrullah tercatat sebagai dosen di Universitas Peradaban Bumiayu. Tak pelak kesedihan diungkapkan seorang mahasiswi di akun Facebook.
"Bapak, kami masih tidak percaya, kemarin hari Sabtu senyuman terakhir, bercandaan teakhir untuk kami," tulis akun tersebut.
Ia juga meminta doa kepada teman- temannya agar almarhum meninggal dalam kondisi khusnul khotimah. "Teman- teman minta doanya untuk beliau almarhum Hanif Amrullah MPd. Sosok dosen yang baik dan sangat luar biasa," lanjutnya.
Akun Facebook Rori Elbandawi menyebut selain Hanif, seorang mahasiswi Fakultas Farmasi atas nama Amaliyah Dwi Cahyani juga menjadi korban.
"Keduanya menjadi korban saat perjalanan pulang dari kampus," tulisnya.
Sang dosen muda itu bertempat tinggal di Dukuh Talok Tengah RT 005 RW 005 Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, Brebes.
Kisah sedih juga diungkapkan seorang korban luka ringan, Rudi Hartono (43). Saat kejadian, Rudi tengah mendorong gerobak siomai di pinggir jalan. Ia mendorong gerobak dari sisi belakang sebelah kiri sehingga truk hanya menabrak gerobaknya saja.
"Saat melihat ke belakang, truk sudah berada di belakang saya sekitar 3 meter. Kemudian menabrak gerobak, saya terpental," kata Rudi.
Namun nasib nahas dialami sahabat karibnya, Roni (48), yang juga penjual siomai.