OPINI: Pesan Perempuan untuk Pemimpin Baru Jawa Tengah

Gegap gempita hajat politik dan pesta demokrasi 2018 usai dilaksanakan. Sebanyak 171 daerah telah menggelar Pilkada serentak pada Rabu, 27 Juni 2018.

OPINI: Pesan Perempuan untuk Pemimpin Baru Jawa Tengah
Tribun Jateng

Oleh Siti Rofiah

Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo Semarang

TRIBUNJATENG.COM - Gegap gempita hajat politik dan pesta demokrasi 2018 usai dilaksanakan. Sebanyak 171 daerah telah menggelar Pilkada serentak pada Rabu, 27 Juni 2018. Hingga artikel ini ditulis, data yang sudah masuk ke KPU sebanyak 93,5 persen suara dari hasil penghitungan atau formulir C-1-KWK (sertifikat pemungutan suara), itu artinya dalam waktu yang tidak lama kita akan mengetahui siapa pemenang pilkada di setiap daerah. Adapun di Jawa Tengah sendiri, hasil hitung cepat menunjukkan pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin unggul dari Sudirman Said-Ida Fauziyah.

Setiap calon pemimpin sudah ditunggu berbagai macam PR untuk diselesaikan, begitu pula Jawa Tengah. Dalam Musrenbangwil 2016 pemerintah Jateng menyimpulkan ada 9 PR utama yang harus segera diatasi dan akan terus diupayakan hingga 2018. Anehnya, isu lingkungan tidak menjadi salah satu diantara 9 PR tersebut. Dalam kampanye pun, isu lingkungan tidak dianggap krusial sehingga tidak ada satu paslon pun yang mengangkatnya ke permukaan. Padahal, berbagai perlawanan dari masyarakat Jawa Tengah sudah sejak lama mengemuka, konflik Kendeng misalnya.

Konflik sumber daya alam sangat berdampak pada hidup perempuan. Siti Maimunah, peneliti dari Sajogyo Institute dalam sebuah diskusi Asean Literary Festival 2017 dalam sesi bertajuk Women, Natural Resource Conflict and Peace Transformationmemaparkan sejumlah persoalan yang dihadapi oleh perempuan dalam relasinya dengan eksploitasi dan perusakan alam. Perempuan memiliki pengalaman langsung dalam berelasi dengan alam. 

Pengalaman konkrit ketubuhan perempuan dalam menghadapi kerusakan alam perlu dipaparkan untuk menggugah kesadaran agar kita tidak teralienasi dari apa yang kita konsumsi. Kita lupa bertanya dari mana datangnya produk-produk yang kita konsumsi seperti misalnya beras, ketela, dan lain sebagainya. Dalam konteks Kendeng, ancaman terhadap lingkungan menjadi urusan perempuan karena pabrik semen mengancam keberadaan air. Perempuan paling berkepentingan dalam hal ini karena dari bangun tidur sampai sebelum tidur, selalu berurusan dengan air.

Dalam kajian ekofeminisme, perusakan ekologis berujung pada ketidakadilan gender. Menurut d’Eaubonne (1974), eksploitasi dan hegemoni ekspansif terhadap alam ini paralel dengan subordinasi perempuan dalam struktur kehidupannya, baik dalam tataran sosial, ekonomi, politik dan budaya. Pandangan dunia antroposentris, yang direpresentasikan oleh dominasi maskulinitas selanjutnya dianggap menghasilkan pola pemikiran dualistik, hegemonistik dan hirarkis dalam cara memandang dunia. Intinya, di dalam ekofeminisme kerusakan alam adalah penindasan perempuan.

Alam dianggap sebagai representasi dan simbol perempuan yang selama ini tunduk dalam dominasi laki-laki. Dalam kasus Kendeng dominasi diwakili oleh kuasa negara yang tidak hadir untuk memberi persetujuan pelestarian alam, alih-alih terlihat pro pada agen eksploitatif. Akibatnya, perempuan lalu teralienasi, kehilangan ruang hidup dan terpisah dari alam yang selama ini menghidupinya.

Untuk “pemimpin baru” Jawa Tengah yang tidak sepenuhnya “baru”, harapan ini sesungguhnya masih digantungkan. Ubahlah paradigma pembangunan yang telah mengabaikan dan mengubah kedudukan alam dari terra mater menjadi sumber keruk. Di berbagai belahan bumi tanah air, perempuan memiliki pengetahuan dan menjalankan fungsi dan perannya sebagai penjaga pangan.

Seluruh cerita bernama pembangunan, makin meminggirkan perempuan, menjauhkan perempuan dari akses dan kontrol terhadap sumber-sumber kehidupan.Ibu-ibu Pegunungan Kendeng sedang mengajak kita bicara tentang perjuangan hidup dan kehidupan. Mereka menunjukkan dalam diri perempuan ada pengalaman, ada pengetahuan mereka dalam memandang alam, ada pengetahuan mereka dalam mengurus sumber-sumber kehidupan. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved