Menulis Bantu ODHA Atasi Stres, Riset Mahasiswa Psikologi Unissula pada Penderita HIV/AIDS
Tim yang dibimbing oleh Erni Agustina Setiowati ini berhasil lolos didanai Dikti pada tahun pendanaan 2018.
TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Penanganan stress penderita HIV/AIDS menjadi perhatian tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) mahasiswa Fakultas Psikologi Unissula.
Mereka terdiri atas Maulida Edlin Pratiwi, Maharani Cahya Dewi, dan Cetryn Tatiana.
Ketiganya melakukan penelitian bertajuk “Pengaruh Expressive writing therapy terhadap emotion focused-coping pada penderita HIV-AIDS”.
Tim yang dibimbing oleh Erni Agustina Setiowati ini berhasil lolos didanai Dikti pada tahun pendanaan 2018.
Emotion focused-coping adalah strategi untuk meredakan emosi individu yang ditimbulkan oleh stressor yang bertujuan untuk mengatur emosi.
“Pengendalian emosi dapat dilakukan melalui perilaku positif seperti expressive writing therapy atau terapi menulis ekspresif yang kami angkat sebagai judul ini,” kata Maulida, ketua tim.
Menurut Maulida, expressive writing therapy adalah proses menulis sebagai wadah ekspresi dan refleksi individu yang dilakukan atas dasar keinginan sendiri atau bimbingan terapis.
“Tujuannya adalah untuk meningkatkan kreatifitas, ekspresi diri, dan memperkuat komunikasi. Dan yang terpenting adalah agar mampu mengatasi emosinya,” tuturnya.
Ia mengungkapkan alasan memilih ODHA sebagai subjek penelitian.
“Para ODHA mengalami stress karena terkena penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Mereka mengalami berbagai permasalahan seperti cemas, stress, hingga depresi. Karena lingkungan yang diskriminatif juga. Maka mereka membutuhkan suatu kegiatan yang dapat memotivasi dirinya.”
Menurutnya, penanganan penderita HIV/AIDS memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.
Bukan hanya masalah kesehatan melainkan juga sisi psikologisnya.
Dengan menulis, kata Maulida, diharapkan mereka dapat lebih produktif, mengisi waktu luang.
Nanti, tulisan-tulisan mereka bisa dikumpulkan dan dibukukan, lalu dipublikasikan.
“Kami membuatkan buku harian yang didesain khusus agar mereka bisa menulis, mengungkapkan yang dirasakan sehari-hari. Kami tidak membatasi mereka harus menulis apa, namun kami memberikan pancingan,” ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/unissula_20180710_115333.jpg)