OPINI Akhmad Saefudin: Mengenang Ki Enthus Susmono
Tanggal 13-14 Mei 2009 sebuah konferensi bertajuk “The Heritage Theatre” dihelat di Rotterdam.
Kekuatan interpretasi dan adaptasi cerita wayang dengan isu-isu terkini membuat gaya pakelirannya menjadi hidup dan interaktif. Kemampuan mengeksplorasi dan mengelola ruang artisitik kelir menjadikan lakon-lakon yang dibawakannya mirip pertunjukan opera yang komunikatif, aktual, dan menghibur.
Ki Enthus menikah dan hidup bersama Romiyati (1990-1995) dan Nurlaela sejak 1997 hingga akhir hayat. Almarhum menghembuskan napas terakhir pada Senin (14/5), meninggalkan empat anak (Firman Nurjannah, Firman Jendra, Firman Jafar Tantowi, dan Firman Haryo Susilo). Betapapun, tidak hanya keluarga dan masyarakat Tegal yang merasa kehilangan atas kepergian Ki Enthus namun juga banyak kalangan di Tanah Air maupun manca negara. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/akhmad-saeefudin_20180625_113345.jpg)