FORUM GURU Galih Suci Pratama :Membumikan Kelas Parenting
Akhir-akhir ini, permasalahan anak bangsa cukup memprihatinkan. Data KPAI tahun 2017 menunjukkan terdapat 26.954 kasus anak
Oleh Galih Suci Pratama, M.Pd
Guru SD N Sekaran 02 Kota Semarang
TRIBUNJATNE.COM - Akhir-akhir ini, permasalahan anak bangsa cukup memprihatinkan. Data KPAI tahun 2017 menunjukkan terdapat 26.954 kasus anak selama 7 tahun terakhir. Bahkan, sebanyak 5.006 kasus merupakan kasus yang berorientasi langsung dengan keluarga. Sebanyak 2.358 kasus tentang pornografi anak, hingga 9.266 kasus anak yang berhadapan di meja hukum.
Sungguh ironis. Salah satu akar dari permasalahan anak adalah pola asuh anak di dalam keluarga yang kurang optimal. Pendampingan keluarga dalam masa-masa pertumbuhan anak pun terkadang masih dikesampingkan. Oleh sebab itu, perlu membumikan kelas parenting di sekolah-sekolah sebagai upaya preventif terhadap kasus kenakalan anak.
Parenting secara etimologis berarti pengasuhan. Atau secara umum yaitu pengasuhan orang tua terhadap anaknya yang mencakup pada mendidik, mengasuh, membimbing, juga memberikan contoh/teladan yang baik dan benar terhadap anak (Jerome Kagan dalam Berns;1997). Oleh sebab itu, pemahaman akan pentingnya parenting sangat perlu diketahui oleh seluruh keluarga di Indonesia. Salah satunya melalui kegiatan di sekolah.
Implementasi Kelas Parenting di Sekolah
Kelas Parenting di sekolah dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, melalui mengundang narasumber baik dari akademisi, psikolog hingga praktisi parenting. Materi parenting pun dapat berupa teknik mendidik anak, perkembangan anak, psikologi anak hingga penanggulangan masalah yang berkaitan dengan anak. Materi-materi tersebut sangat penting untuk diketahui oleh seluruh keluarga di Indonesia. Terutama, sebagai salah satu cara dalam mengoptimalkan pola kembang anak agar lebih bermakna.
Kedua, menjalin harmonisasi antara walisiswa dengan sekolah melalui berbagai kegiatan seperti festival parenting, parenting gathering, lomba parenting hingga pameran parenting. Keseluruhan kegiatan berorientasi untuk membangun harmonisasi, interaksi dan komunikasi yang baik antara anak, orang tua dan juga sekolah. Peran orang tua memang sangat vital dalam perkembangan anak. Sehingga kesatuan antara sekolah dan keluarga menjadi unsur yang sangat penting. Jika salah satu tidak berjalan secara baik, maka hasilnya pun akan kurang baik.
Ketiga, mengisi angket penilaian diri. Sinkronisasi kegiatan di rumah dan sekolah perlu terekam secara baik. Salah satunya menggunakan angket. Melalui angket ini sekolah akan memperoleh data yang rinci tentang pola asuh anak di rumah. Data tersebut digunakan untuk pengoptimalan sekolah untuk mendukung keluarga sebagai pilar karakter siswa. Jika data tersebut banyak kegiatan yang positif maka sekolah menegaskan bahwa kegiatan di rumah sudah berjalan secara baik. Namun jika di rumah masih belum sesuai, maka sekolah mengarahkan tentang pengoptimalan kegiatan di keluarga secara benar. Baik bersama orang tua ataupun siswa.
Keempat, home visit. Kegiatan home visit sangat perlu dilakukan ke lingkungan belajar anak. Baik siswa yang sudah sangat baik berinteraksi dengan orang tua, atau bahkan yang belum begitu baik. Home visit sangat membantu guru untuk mengetahui secara lebih nyata tentang pola asuh anak di rumah dan lingkungan belajar di rumah. Pola tersebut menjadi data pelengkap untuk membina anak ketika berada di sekolah.
Kelima, hari konsultasi. Hari konsultasi merupakan satu hari khusus dalam satu bulan yang dapat digunakan oleh walimurid untuk berkonsultasi tentang perkembangan anaknya di sekolah. Konsultasi tersebut dapat berupa mencari solusi tentang permasalahan anaknya di skeolah atau digunakan untuk menemukan bakat dan minat siswa pada sesuatu hal. Upaya ini penting untuk mendeteksi setiap potensi yang dimiliki oleh siswa.
Kelima bentuk kegiatan Kelas Parenting tersebut sebagai contoh upaya yang dapat mendekatkan, mengenalkan, memahamkan orang tua tentang pola asuh anak secara baik. Sehingga muncul sinkronisasi antara pendidikan di keluarga, sekolah dan masyarakat seperti yang didengungkan oleh Ki Hajar Dewantara melalui Tri Sentra Pendidikan.Ujungnya, orang tua semakin memahami akan pentingnya pendidikan pola asuh anak. Dampaknya, anak akan berkembang lebih optimal dalam pengembangan bakat minatnya. Ini sangat penting.
Kesadaran Bersama
Berbagai kegiatan Kelas Parenting akan berhasil jika seluruh elemen mempunyai kesadaran akan pentingnya menjagapola asuh anak. Seperti akademisi, psikolog, keluarga, sekolah, masyarakat hingga pegiat pola asuh. Semua mempunyai peran masing-masing dalam menguatkan peran keluarga. Semakin menyadari akan pentingnya pola asuh anak, maka semakin besar pula kemungkinan berhasil dalam mendidik anak. Oleh sebab itu, mari bersama-sama untuk mengingatkan pentingnya pola asuh anak yang baik melalui berbagai kegiatan kelas parenting. Anak bangsa yang baik berasal dari pola asuh yang baik. Anak bangsa yang baik penentu masa depan suatu bangsa. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/galih-suci-pratama_20180814_100212.jpg)