Rifai Lega Siswa-siswanya Belajar dalam Kelas Tidak Kepanasan
Sejumlah siswa SDN Parang mengikuti pelajaran sekolah di dalam kelas. Mereka tampak gembira berada dalam kelas tidak kepanasan
Penulis: iswidodo | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG.COM - Ribuan penduduk di Pulau Parang kecamatan Karimunjawa Jepara sudah bisa menikmati listrik 24 jam berkat Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bantuan Denmark. Sebelumnya listrik di tempat ini hanya hidup 6 jam, itu pun sering terganggu pasokan BBM akibat cuaca buruk.
Sejumlah siswa SDN Parang mengikuti pelajaran sekolah di dalam kelas. Mereka tampak gembira berada dalam kelas tidak kepanasan karena kipas angin yang menempel di plafon terus hidup.
Sejak Agustus ini, kipas angin, komputer dan proyektor sarana belajar mengajar di sekolah tersebut bisa digunakan berkat energi listrik yang sudah hidup 24 jam. Sebelumnya hanya menyala 6 jam, itu pun dayanya kecil.
Rifai guru SDN Parang menuturkan, anak-anak sekarang tidak kepanasan belajar dalam kelas. Mereka senang bisa nikmati kipas angin sambil belajar. Maklum suhu di Pulau Parang yang berada di Laut Jawa cukup panas.
Tribun Jateng bersama rombongan ESP3 dan Staf Kedubes Denmark, mengunjungi Pulau Parang, naik speedboat dari Pulau Karimunjawa sekitar 40 menit perjalanan. Tanggal 7 Agustus lalu, kebetulan angin berhembus cukup kencang dan gelombang lumayan tinggi.
Sampai di pulau seluas 690 hektar ini, disambut oleh sederet kapal-kapal nelayan yang sedang tambat di pinggiran pantai. Sekretaris Kelurahan Parang, Suyadi senang lihat kedatangan wartawan dan Environmental Support Program fase 3 (ESP3) yang menjembatani bantuan PLTS Denmark di Jawa Tengah. Suyadi segera menyambut dan membawa rombongan wartawan melihat-lihat kehidupan nelayan. Maklum pulau ini dihuni 1.143 jiwa mayoritas adalah nelayan.
Sejak ada bantuan PLT Surya bantuan Denmark, penduduk di Pulau Parang bisa menikmati listrik 24 jam. Sebanyak 355 rumah teraliri listrik daya 1.500 Wh perhari. Sebelumnya hanya 600 Wh per hari. Itu pun listrik sering padam. Sudah ada PLTD dan PLTS namun belum maksimal. Dengan adanya aliran listik 24 jam, warga optimistis ekonomi mereka bisa meningkat mengejar ketertinggalan.
Petinggi atau Kades Parang, M Zainal Arifin menjelaskan, saat ini PLTS bantuan Denmark sudah diujicobakan, berjalan lancar. Dia berharap nanti dikelola oleh BUMDes agar bisa mandiri. Tidak tergantung sepenenuhnya kepada pasokan BBM untuk menghidupkan diesel. Apalagi saat musim angin atau gelombang tinggi, cuaca buruk, dulu terpaksa warga Pulau Parang gelap-gelapan.
Diakuinya, ada kapal rute Parang-Karimunjawa melayani pelayaran Senin dan Jumat. Cukup bayar Rp 30 ribu untuk sekali jalan. Kades Parang menyatakan, dalam waktu dekat akan ada bantuan kapal dari Gubernur Jawa Tengah.
Camat Karimunjawa Saptwagus Karnanejeng Ramadi mengatakan, daya listrik saat ini 1.500 Wh itu sebenarnya masih dirasa kurang. Karena baru bisa menyalakan peralatan elektronik yang kecil hingga sedang. Sedangkan untuk freezer atau peralatan pembuatan kapal yang butuh daya listrik besar, masih belum kuat.
"Memang berkat bantuan PLTS Denmark ini ada peningkatan layanan kesehatan, belajar mengajar dan menunjang kegiatan ekonomi masyarakat. Tapi kami berharap bisa ditambah lagi dayanya," kata Karnanejeng kepada rombongan wartawan dan ESP3 serta Staf Kedubes Denmark.
Provincial Programme Officer ESP3 Muhammad Nurhadi atau Mas Inung mengatakan proyek PLTS ini pilihan yang tepat karena ramah lingkungan, sedikit gas rumah kaca yang
dihasilkan. Emisi gas rumah kaca hanya 5 persen dari emisi GRK yang dihasilkan batubara. Lokasi juga tepat karena di pulau tropis melimpah matahari sebagai sumber energi cukup stabil.
"PLTS dapat dibangun terpisah dari jaringan PLN, sehingga tidak perlu membangun jaringan yang mahal. Ini cocok untuk daerah yang sulit terjangkau. Panel surya juga dapat dipasang di rumah-rumah serta bangunan biasa untuk memberikan pasokan
energi mandiri skala kecil," terang Mas Inung yang diamini Mr Per Rasmussen National Programme Adviser dari Denmark.
Mr Ian Rowland provincial programme officer menambahkan, memang PLTS biaya investasi di awal cukup mahal. Namun pada akhirnya menjadi lebih murah karena tidak perlu membeli BBM. Energi PLTS tergantung sinar matahari yang umumnya tersedia di kepulauan Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/belajar-mengajar-di-sdn-parang-sudah-bisa-pakai-kipas_20180810_183645.jpg)