FOCUS

FOCUS: Literasi

Literasi sedang menjadi gerakan di Indonesia, terutama diterapkeun di sekolah-sekolah.

FOCUS: Literasi
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Cecep Burdansyah wartawan /Tribun Jateng 

Tajuk ditulis oleh wartawan Tribun Jateng, Cecep Burdansyah

TRIBUNJATENG.COM - Literasi sedang menjadi gerakan di Indonesia, terutama diterapkeun di sekolah-sekolah. Dua hari ini secara berturut-turut muncul tentang gerakan literasi. Berita tersebut bukan hal baru, karena jauh sebelumnya juga sudah sering diberitakan mengenai gerakan literasi.

Antusiasme masyarakat pada literasi, terutama mereka yang peduli pada pentingnya membaca buku, cukup tinggi. Selain menyambut positif program literasi dari pemerintah, mereka juga ikut aktip menularkan pentingnya literasi. Salah satunya dengan maraknya taman membaca atas inisiatif masyarakat sendiri.

Namun literasi sering dipahami berhenti pada kegiatan membaca, atau melek huruf. Seakan-akan masyarakat yang membaca buku sudah bisa dikategorikan masyarakat literer. Di Indonesia, seperti terbaca dalam berita di sebuah media, kegiatan literasi di sekolah yaitu siswa membaca 10 sampai 15 menit sebelum dimulai kegiatan belajar. Program literasi seperti ini memang prakarsa Anies Baswedan saat ia menjabat Menteri Pendidikan Nasional. Sejak itu, setiap sekolah mewajibkan siswanya membaca buku 10 sampai 15 menit sebelum belajar dimulai.

Pemahaman literasi seperti itu bisa menyesatkan. Seakan-akan orang yang terbiasa membaca buku sudah terpenuhi aspek literasinya. Karena itu kita sering menemukan pegiat literasi membuka taman baca dengan mengundang masyarakat supaya datang ke tempat bacaannya. Kegiatan ini tentu merupakan hal yang positif. Sayang kita tak pernah tahu apa hasil dari kegiatan masyarakat pasca membaca itu.

Sebab jika maksudnya hendak memperkuat literasi di masyarakat, tentu tak sebatas kegiataan membaca, apalagi sekadar membaca 10 sampai 15 menit. Literasi tujuannya membentuk manusia kritis, mampu menjelaskan apa yang dia baca, mampu menunjukkan pendapat yang bagus dan yang keliru dalam teks, lebih jauh lagi mampu menganalisa serta menuliskan pikirannya sendiiri. Kemampuan ini kemudian menjadi bekal dalam menghadapi semua persoalan hidup dan mengatasinya.

Literasi membutuhkan fondasi yang kuat. Karena itu, jika seseorang hendak memperkuat literasinya, tidak bisa dimulai saat sudah duduk di SMP, apalagi di SMA, terlebih sudah dewasa. Sangat terlambat. Penguatan literasi harus diawali sejak dini, sejak usia sekolah dasar atau sejak bisa membaca. Tentu dengan bahan bacaan yang sesuai usianya.

Sastrawan Asrul Sani mengatakan, jika seseorang mulai membaca di usia 35 tahun, sudah sangat terlambat dan tak akan mampu memahami teks bacaan. Dalam arti, gagal literasinya. Pengarang laris Stehpen King menyebutkan, seseorang jika ingin sukses dengan kelas dunia, apakah atlet olah raga, musisi, penyanyi, pengarang, memerlukan latihan 10 ribu jam dalam hidupnya. Itu artinya dalam membaca dan menulis harus dimulai sejak usia dini, tidak bisa serta merta setelah dewasa.

Kalau kita membaca tuilisan K Bertens dalam salah satu bukunya serial filsafat barat, di Prancis anak sekolah dasar sudah diwajibkan membaca novel dan menganalisisnya. Kultur tersebut merupakan konsistensi dari tradisi Prancis yang banyak melahirkan filsuf dan sastrawan kelas dunia.

Jadi, memperkuat literasi di masyarakat dengan hanya membaca buku, sama dengan menembak burung menggunakan senjata tanpa peluru. (tribunjateng/cetak/cep)

Penulis: cecep burdansyah
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved