Super Flu
"Tak Perlu Berlebihan Menyikapi Super Flu" Prof Agung Jelaskan Cara Kerja Imun Manusia
Stem Cell and Cancer Research (SCCR) Semarang mengembangkan pendekatan kesehatan berbasis riset yang terintegrasi dengan edukasi masyarakat.
Penulis: Franciskus Ariel Setiaputra | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Publik saat ini sedang dijejali dengan ramainya pemberitaan tentan super flu.
Namun ternyata manusia sebenarnya sudah dibekali dengan sistem imun yang adaptif dengan berbagai virus.
Hal itu disampaikan pendiri SCCR Semarang, Prof. Agung Putra.
Dokter dan akademisi itu menekankan pentingnya pemahaman ilmiah tentang imunitas tubuh, pencegahan penyakit, serta upaya menjaga kualitas hidup hingga usia lanjut.
Baca juga: Dinkes Pastikan Super Flu Belum Ditemukan di Batang: Masyarakat Tidak Perlu Cemas
Baca juga: Warga Wonosobo Diminta Waspada Super Flu, Ini Gejala Awalnya
Menurut Prof. Agung, masyarakat tidak perlu berlebihan menyikapi berbagai isu penyakit yang berkembang, termasuk yang baru-baru ini ramai jadi perbincangan yakni super flu.
Ia menjelaskan bahwa tubuh manusia telah memiliki sistem pertahanan alami yang kuat, selama didukung pola hidup sehat.
“Tubuh kita dibekali dua sistem imun, yakni imun bawaan dan imun adaptif. Keduanya mampu bekerja optimal jika didukung ketenangan pikiran, nutrisi yang baik, dan gaya hidup sehat,” ujar sosok yang juga seorang dokter dan akademisi tersebut, Selasa (13/1/2026).
Ia menambahkan, stres berlebihan justru dapat menurunkan daya tahan tubuh, sebagaimana dibuktikan dalam kajian psikoneuroimunologi.
Karena itu, menjaga kesehatan mental menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan penyakit.
Selain pola hidup sehat, Prof. Agung juga menyoroti pentingnya pemanfaatan herbal tradisional yang memiliki dasar ilmiah.
Berbagai tanaman seperti sambiloto, brotowali, kunyit, dan temulawak disebut memiliki kemampuan menangkal radikal bebas dan mendukung regenerasi sel.
Dalam riset yang dikembangkan SCCR, kajian tentang penuaan juga menjadi perhatian.
Prof. Agung menjelaskan bahwa pemendekan telomer DNA merupakan salah satu faktor utama penuaan sel. Melalui pendekatan ilmiah, proses tersebut dapat ditunda sehingga manusia tetap sehat dan produktif di usia lanjut.
“Secara sains, penuaan bisa diperlambat. Bukan untuk melawan kodrat, tetapi agar manusia tetap sehat dan bermanfaat lebih lama. Soal umur tetap di tangan Tuhan,” jelasnya.
Konsep kesehatan holistik yang dikembangkan SCCR tidak hanya berhenti pada riset dan edukasi, tetapi juga diwujudkan dalam pengembangan kawasan wellness terpadu.
| Sejumlah Warga Keluhkan Sulit Beli Pertalite di Malam Hari |
|
|---|
| Pertamina Sebut Stok Pertalite di Jateng-DIY Bisa Tanggung 12 Kali Konsumsi Harian Normal |
|
|---|
| Kronologi Chevrolet Terjebur ke Sungai di Grobogan, Tabrak Pembatas Jembatan, Sopir Tewas |
|
|---|
| Respons Cepat, Wali Kota Agustina Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Mangkang dan Purwoyoso |
|
|---|
| Perjuangan Atlet Cilik NTB, Sebrangi Laut ke Semarang demi Berlaga di Champ of the Champ 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/LABORATORIUM-Suasana-di-salah-satu-ruangan.jpg)