Breaking News
Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Super Flu

"Tak Perlu Berlebihan Menyikapi Super Flu" Prof Agung Jelaskan Cara Kerja Imun Manusia

Stem Cell and Cancer Research (SCCR) Semarang mengembangkan pendekatan kesehatan berbasis riset yang terintegrasi dengan edukasi masyarakat.

Tayang:
TRIBUN JATENG/Franciskus Ariel Setiaputra
LABORATORIUM - Suasana di salah satu ruangan laboratorium di SCCR Gunungpati Semarang, petugas laboratorium wajib menggunakan Hazmat Suit atau APD saat bekerja, Selasa (13/1/2026). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Publik saat ini sedang dijejali dengan ramainya pemberitaan tentan super flu.

Namun ternyata manusia sebenarnya sudah dibekali dengan sistem imun yang adaptif dengan berbagai virus.

Hal itu disampaikan pendiri SCCR Semarang, Prof. Agung Putra.

Dokter dan akademisi itu menekankan pentingnya pemahaman ilmiah tentang imunitas tubuh, pencegahan penyakit, serta upaya menjaga kualitas hidup hingga usia lanjut.

Baca juga: Dinkes Pastikan Super Flu Belum Ditemukan di Batang: Masyarakat Tidak Perlu Cemas

Baca juga: Warga Wonosobo Diminta Waspada Super Flu, Ini Gejala Awalnya

Menurut Prof. Agung, masyarakat tidak perlu berlebihan menyikapi berbagai isu penyakit yang berkembang, termasuk yang baru-baru ini ramai jadi perbincangan yakni super flu.

Ia menjelaskan bahwa tubuh manusia telah memiliki sistem pertahanan alami yang kuat, selama didukung pola hidup sehat.

“Tubuh kita dibekali dua sistem imun, yakni imun bawaan dan imun adaptif. Keduanya mampu bekerja optimal jika didukung ketenangan pikiran, nutrisi yang baik, dan gaya hidup sehat,” ujar sosok yang juga seorang dokter dan akademisi tersebut, Selasa (13/1/2026).

Ia menambahkan, stres berlebihan justru dapat menurunkan daya tahan tubuh, sebagaimana dibuktikan dalam kajian psikoneuroimunologi.

Karena itu, menjaga kesehatan mental menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan penyakit.

Selain pola hidup sehat, Prof. Agung juga menyoroti pentingnya pemanfaatan herbal tradisional yang memiliki dasar ilmiah. 

Berbagai tanaman seperti sambiloto, brotowali, kunyit, dan temulawak disebut memiliki kemampuan menangkal radikal bebas dan mendukung regenerasi sel.

Dalam riset yang dikembangkan SCCR, kajian tentang penuaan juga menjadi perhatian. 

Prof. Agung menjelaskan bahwa pemendekan telomer DNA merupakan salah satu faktor utama penuaan sel. Melalui pendekatan ilmiah, proses tersebut dapat ditunda sehingga manusia tetap sehat dan produktif di usia lanjut.

“Secara sains, penuaan bisa diperlambat. Bukan untuk melawan kodrat, tetapi agar manusia tetap sehat dan bermanfaat lebih lama. Soal umur tetap di tangan Tuhan,” jelasnya.

Konsep kesehatan holistik yang dikembangkan SCCR tidak hanya berhenti pada riset dan edukasi, tetapi juga diwujudkan dalam pengembangan kawasan wellness terpadu.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved