Calon TKI Keluhkan Layanan Rekam Medis di RSUD dr Soewondo Kendal
Banyak warga Kendal merantau menjadi TKI di luar negeri atau kini istilahnya pekerja migran Indonesia (PMI)
Penulis: yayan isro roziki | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Banyak warga Kendal merantau menjadi TKI di luar negeri atau kini istilahnya pekerja migran Indonesia (PMI)
Penghasilan dari menjadi pekerja migran di luar negeri, dirasa lebih besar dan bisa diandalkan mendongkrak ekonomi keluarga.
Satu di antaranya adalah Nur Hikmah, gadis belia berusia menjelang 20 tahun warga Kecamatan Weleri. Diakui, ia tertarik menjadi pekerja migran setelah mendengar cerita dari lingkaran pergaulannya, yang sukses menopang perekonomian keluarga dari mengais rezeki di luar negeri.
"Banyak tetangga dan teman, yang telah berangkat jadi TKI ke luar negeri. Perekonomian keluarga mereka jadi lebih mapan," ujar gadis berkerudung itu, kepada Tribun Jateng.
Akan tetapi, keinginan Nur untuk segera mengais rezeki di luar negeri untuk pertama kalinya terancam tersendat. Hasil rekam medis dari RSUD dr. H. Soewondo Kendal, menyebutkan bahwa ia unfit, sehingga belum layak diberangkatkan ke luar negeri.
"Katanya ada bronkitis, itu yang menyebabkan unfit," tuturnya.
Padahal, tak sampai seminggu sebelumnya, ia telah melakukan rekam medis di sebuah sarana kesehatan (sarkes) swasta di Kendal. Hasilnya, ia dinyatakan fit dan cukup layak untuk bekerja di luar negeri.
Sarkes swasta itu, tak bisa disebut sembarangan. Sebab, telah melayani rekam medis untuk calon pekerja migran, selama bertahun-tahun belakangan. Selain itu, merupakan sarkes resmi yang telah ditunjuk oleh BNP2TKI.
"Saya jadi bingung dan gamang, dengan hasil tes ini," ujarnya.
Yang lebih membuatnya kebingungan adalah persoalan biaya. Disampaikan, untuk melakukan rekam medis di RSUD dr. H Soewondo sebesar Rp770.000 kemarin saja, ia harus mencari pinjaman ke sanak-saudara.
"Katanya, harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut ke poli penyakit dalam, dikasih semacam surat rujukan," ucapnya.
Dituturkan, pemeriksaan lanjutan ke poli penyakit dalam tentu harus mengeluarkan biaya lagi. Itu pun belum termasuk obat-obatan yang nantinya harus ditebus.
"Saya sudah gak punya uang lagi, gak tahu mau cari ke mana lagi," ujarnya, menerawang.
Tak sampai di situ, usai pengobatan, tahap selanjutnya adalah rekam medis ulang di rumah sakit yang sama. Tentu, dengan besaran biaya yang sama pula.
"Kalau memang dinyatakan sakit, kenapa gak langsung dikasih resep saja untuk menebus obat. Kenapa prosedurnya jadi berbelit-belit begini, saya bingung mau cari uang ke mana lagi. Sampai sekarang belum periksa ke poli, tak ada uang," sambung Nur.
Tekad Nur untuk bisa segera bekerja di negeri seberang cukup wajar. Dari informasi yang diterimanya, seorang asisten rumah tangga (ART) di Hong Kong mendapat gaji 4.400 Dolar Hong Kong (HKD) per bulan. Jika 1 HKD setara dengan Rp1.900-an, maka tiap bulan seorang ART asal Indonesia di Hong Kong mendapat gaji sekitar Rp 8.360.00.
Gaji sebesar itu, sambungnya, akan sangat sulit didapatkannya jika memilih bekerja di dalam negeri, apalagi bila di kampung halaman sendiri. Terlebih, anak keempat dari tujuh bersaudara itu hanya berbekal ijazah setingkat sekolah menengah atas (SMA).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/antrean-di-rsud-dr-soewondo-kendal_20180910_111225.jpg)