Senin, 13 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tiga SD di Salatiga Dilibatkan Guna Minimalisir Kekerasan Seksual Pada Anak

Tiga sekolah dasar (SD) di Kota Salatiga dilibatkan dalam meminimalisir tindak kekerasan seksual pada anak-anak.

Penulis: dina indriani | Editor: galih permadi
TRIBUN JATENG/DENI SETIAWAN
Tiga sekolah dasar (SD) di Kota Salatiga dilibatkan dalam meminimalisir tindak kekerasan seksual pada anak-anak. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA -  Tiga sekolah dasar (SD) di Kota Salatiga dilibatkan dalam meminimalisir tindak kekerasan seksual pada anak-anak.

Satu di antaranya yakni melalui edukasi awal pada sosialisasi anti kekerasan seksual pada anak yang telah digelar pada Sabtu (22/9/2018) lalu.

Menurut koordinator program, Prof Dr Ir Eko Sediyono, gagasan awal tersebut sebagai bentuk keprihatinan terhadap semakin banyaknya muncul kasus kekerasan maupun pelecehan seksual yang terjadi pada peserta didik di tingkat SD.

“Itu mengapa kami para akademisi di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) terdorong untuk menyosialisasikannya dan melibatkan tiga sekolah pada awal ini. Dari sekolah itu, setidaknya pula ke depan bisa ikut serta mengedukasi ke sekolah lainnya,” kata Eko.

Kepada Tribunjateng.com, Senin (24/9/2018), dosen Teknik Informatika UKSW tersebut membeberkan, ketiga sekolah yang dimaksud itu adalah SD Negeri Sidorejo Lor 1, SD Negeri Sidorejo Lor 5, dan SD Negeri Kumpulrejo 3 Kota Salatiga.

“Di ketiga sekolah itu, yang kami prioritaskan juga kepada para guru beserta para orangtua peserta didik di kelas III dan IV. Kedua kelas itu kami pilih karena menurut kami, anak-anak di usia tersebut mereka belum memiliki keterampilan, pengetahuan, maupun keberanian menghadapi orang,” tukasnya.

Itu mengapa, lanjutnya, perlu adanya bekal informasi tentang pemahaman serta pengetahuan secara optimal mengenai seksualitas sejak dini.

Dari para guru serta orangtua peserta didik tersebut, bisa menyampaikan kepada anak-anak. Kemudian dari mereka bisa ditularkan ke guru maupun orangtua di sekolah lainnya.

“Dari data kami, ada sekitar 736 kasus kekerasan yang ditemukan Komisi Nasional Perlindungan Anak pada 2005 silam. Dan angka itu terus meningkat di tiap tahunnya. Dari jumlah itu, prosentase terbanyak yakni kekerasan seksual sebanyak 44 persen,” ucap psikolog dari UKSW, Dr Wahyuni Kristinawati.

Lalu, lanjut Wahyuni, posisi kedua sekitar 32 persen merupakan kekerasan fisik dan 24 persen kekerasan psikis. Dimana semua itu yang menjadi korban adalah anak-anak di seusia mereka, tingkat sekolah dasar.

“Karena itu penting kiranya pemahaman tentang deteksi awal tanda kekerasan seksual. Satu di antaranya cara yang paling mudah adalah melalui perubahan perilaku anak tersebut. Perlu diselidiki jika tiba-tiba ada anak yang ketakutan bertemu oranglain, pola makan dan tidurnya pun berubah. Mudah marah apalagi berontak,” tandasnya.

Wahyuni menambahkan, ketika ada perubahan itu, yang perlu dilakukan adalah mendekatkan diri terhadap anak.

Jika di lingkungan sekolah adalah guru wali kelas atau guru bimbingan konseling (BK). Di rumah adalah orangtua.

"Secara bertahap, akan kami perluas jangkauan sosialisasi serta edukasi tentang hal tersebut. Jadi tidak hanya di 3 sekolah, tetapi ke sekolah-sekolah lainnya. Mungkin pula tidak hanya di tingkat SD, tetapi juga di sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Salatiga," tuturnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved