Selasa, 21 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Terombang-Ambing di Laut 49 Hari, Aldi Novel Adilang Sempat Ingin Bunuh Diri

Saat itu, Aldi berfikir bahwa ia tak akan pernah lagi melihat daratan dan bertemu dengan orangtua.

Penulis: Suci Rahayu | Editor: abduh imanulhaq
FACEBOOK/ERIS RISWANDI
Aldi Terapung Berbulan-bulan Hingga ke Jepang 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Suci Rahayu 

TRIBUNJATENG.COM - Beberapa waktu yang lalu kisah seorang pemuda Indonesia viral hingga ke media internasional. 

Cerita Aldi Novel Adilang yang terombang-ambing di laut lepas selama 49 hari menarik perhatian banyak pihak. 

Pemuda berusia 19 tahun bekerja sebagai penjaga rumah rakit atau rompong di tengah laut

Karena angin kencang dari selatan, tali rumah rakit yang ia naiki terputus dan membuatnya terhanyut bersama dengan ombak besar dan angin kencang. 

Ia sudah meminta tolong melalui handie talkie, namun ombak besar membuat perahu tak berani melanjutkan penyelamatan.

Setelah terhanyut di lautan lepas seorang diri, Aldi mendapat pertolongan dari sebuah kapal berbendera Panama. 

Kapal tersebut hampir saja melewatinya seperti kapal-kapal lain, namun kapal itu kembali setelah Aldi mengatakan 'help' atau tolong. 

"Tadi itu kapal lewati saya, lalu saya masuk ke frekuensi kapal lewat HT, lalu saya ingat bilang help, baru mereka kembali ambil saya." 

Ia pun ditolong dan dapat kembali berkumpul bersama keluarga dibantu oleh KJRI di Jepang.

Aldi Novel diundang di Hitam Putih pada Kamis (27/9) untuk menuturkan kisahnya secara langsung. 

Diceritakan Aldi, ia memang bekerja sebagai penjaga rumah rakit dan bertugas untuk menyalakan lampu agar ikan-ikan berkumpul.

Ia sudah dikontrak selama satu tahun untuk terus berada di tengah laut dengan bayaran Rp 2 juta tiap bulan. 

Selama satu tahun itu ia harus terus berada di tengah laut dengan bahan makanan yang diberikan seminggu sekali melalui kapal yang datang untuk memanen ikan. 

Ternyata, ini bukan kali pertama Aldi pernah hilang dan hanyut di laut

Sebelum hilang hingga 49 hari, Aldi pernah dua kali mengalami hal yang sama. 

Ia pernah hilang selama satu minggu, kemudian terjadi kembali selama tiga hari. 

Saat itu ia beruntung karena dapat langsung dikejar oleh perahu atau kapal milik bosnya. 

Aldi memang sudah paham bahwa pekerjaannya tersebut sangat beresiko. 

Terkadang, ia harus ketakutan saat ikan hiu ikut mendekati rakitnya karena mencari makan di bawah sinar lampu dari rakit. 

Makanan dan air tawar yang Aldi bawa hanya dapat bertahan selama seminggu. 

Terkadang ia juga merebus atau membakar ikan pancingannya dari api yang ia buat dengan kayu-kayu rakit. 

"Saya cabut kayu-kayu dari rakit lalu saya buat api untuk memasak," ujarnya malu-malu. 

Namun ia tidak selalu memasak ikannya karena harus menghemat kayu rakit. 

"Saya menghemat kayu rakit, kalau turuti saya punya mau selalu dibakar atau direbus nanti bisa habis rakit saya." 

Tak ia pungkiri, hari-hari yang ia habiskan di dalam rakit amatlah menyiksa. 

Demi menghemat bahan bakar generator, Aldi harus bertahan dalam gelap di tengah laut

Ia hanya akan menyalakannya saat melihat ada kapal yang lewat yang dapat ia mintai tolong. 

Aldi mengaku harus bertahan dengan panas, badai, lapar, dan haus. 

Di minggu kedua, Aldi Novel merasa putus asa dan hilang harapan hingga hampir bunuh diri

Saat itu, ia berfikir bahwa ia tak akan pernah lagi melihat daratan dan bertemu dengan orangtua. 

"Saya putus asa, berteriak Tuhan tolong saya, saya menangis terus, sampai tertidur, terbangun besoknya sudah siang,' ujarnya dengan muka sedih. 

Wajah kedua orangtuanya yang muncul membuat Aldi urung melakukan bunuh diri karena putus asa. 

Tiap kali pikiran itu muncul, ia akan langsung masuk ke dalam gubuk, membaca Al-Kitab yang ia bawa dan menyanyikan lagu rohani. 

Al-Kitab tersebut ia bawa dari rumah pada saat ia berangkat pertama kali ke rompong. 

Setelah melakukan hal itu, barulah harapan Aldi kembali dan berusaha untuk terus bertahan. 

Ketika datang kapal penolongnya, ia merasa badannya sudah sangat lemas dan tak berdaya. 

Para awak kapal memberinya makanan dan minuman, memintanya mandi, dan beristirahat. 

Komunikasi dilakukan dengan menggunakan Google translate di ponsel awak kapal. 

Aldi tak kuasa menahan tangis ketika diperlihatkan video detik-detik dirinya ditolong oleh para awak kapal. 

Selama bekerja di rompong, Aldi hanya mendapatkan hiburan melalui game ponsel dan mengobrol bersama teman melalui HT. 

Ia pun bernazar, jika memang ia selamat kali ini, ia tidak akan lagi melaut. 

Kini Aldi sudah tidak bekerja di rompong lagi. 

Dituturkan oleh kakak iparnya, ayah Aldi adalah orang yang paling gelisah. 

Ayahnya tersebut terus-terusan menelfon banyak pihak untuk memastikan kabar Aldi. 

Ibu dan ayah Aldi sempat mendapatkan mimpi yang sama pada beberapa hari. 

Kedua orangtua Aldi beberapa kali bermimpi sedang melakukan sesuatu lalu baju mereka basah karena air laut

Hal tersebut lah yang membuat orangtua Aldi merasa putranya masih hidup dan akan selamat. (Suci Rahayu/Tribunjateng.com)

Video lengkap.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved