Jumat, 17 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kecemasan Warga Lereng Gunung Slamet saat Musim Hujan kembali Datang

Lumpur itu dikhawatirkan mencemari hulu sungai Prukut yang mengalir sampai ke anak-anak sungai di desa

Penulis: khoirul muzaki | Editor: muslimah
Tribun Jateng/Khoirul Muzaki
aktivitas proyek PT SAE untuk pengembangan PLTPB Baturraden di lereng gunung Slamet. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - Musim kemarau diperkirakan sebentar lagi berakhir. Masyarakat di banyak daerah siap menyambut turunnya hujan yang berarti berkah bagi mereka.

Lahan akan basah hingga siap ditanami kembali. Warga juga tak perlu repot membeli air bersih, atau mengantre bantuan air dari pemerintah lantaran sumur mereka akan penuh terisi.

Tetapi belum tentu bagi sebagian masyarakat lereng Gunung Slamet, Kecamatan Cilongok Banyumas. Saat musim kering, mata air berubah bening karena tidak tercampur lumpur yang biasa datang bersamaan hujan.

Warga pun dapat beristirahat dari persoalan air keruh yang sempat membuat mereka menderita.

Saat warga di wilayah lain bersiap menyambut musim hujan yang membawa harapan, sebagian masyarakat di kaki Gunung Slamet justru dilanda kecemasan.

Musim penghujan bisa berarti ancaman bagi mereka. Endapan lumpur yang membatu saat kemarau bisa mencair dan meluncur bersama air hujan.

Lumpur itu dikhawatirkan mencemari hulu sungai Prukut yang mengalir sampai ke anak-anak sungai di desa.

Padahal, sungai itu selama ini dimanfaatkan warga untuk bermacam kebutuhan, mulai konsumai rumah tangga, mandi cuci, air minum ternak, hingga mengairi lahan pertanian dan kolam ikan.

"Kalau musim kemarau tidak ada lumpur ke sungai. Yang ditakutkan nanti kalau hujan,"kata Ketua Paguyuban air bersih Desa Panembangan Kecamatan Cilongok

Kekhawatiran Kartun ini beralasan. Hujan selalu jadi faktor pemicu guguran tanah (longsor) di hulu sehingga materialnya ikut luncuran air hujan ke aliran sungai.

Pembukaan lahan di atas bukit untuk proyek panas bumi juga dimungkinkan masih menyisakan endapan lumpur.

Terlebih warga sudah memiliki pengalaman buruk saat musim hujan tahun lalu. Sungai Prukut yang menjadi denyut nadi kehidupan warga keruh hingga tak dapat dimanfaatkan.

Aliran mata air menjadi tak layak konsumsi. Sektor peternakan dan pertanian yang mengandalkan pasokan air sungai itu ikut lumpuh hingga warga merugi. Warga di beberapa desa pun sempat dilanda krisis air bersih.

Saat itu, masyarakat lereng gunung yang mestinya berlimpah air harus mengantre bantuan air bersih dari mobil-mobil tangki layaknya di berada daerah kekeringan.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved