Inilah Kampung Wisata Batik Semarang, Ada Pengrajin Batik Motif Semarang Heritage
Bagi Anda warga lokal maupun luar Kota Semarang yang ingin mencari batik khas Semarang, patut mencoba kampung wisata bertema batik satu ini.
Penulis: Reza Gustav Pradana | Editor: galih permadi
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Reza Gustav
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bagi Anda warga lokal maupun luar Kota Semarang yang ingin mencari batik khas Semarang, patut mencoba kampung wisata bertema batik satu ini.
Dialah Kampung Batik Semarang, salah satu kampung tematik yang terletak di Kelurahan Rejomulyo, Semarang Timur, Semarang, Jawa Tengah.
Saat kita mulai memasuki gang-gang di Kampung Batik yang tidak terlalu lebar itu, kita disuguhkan dengan berbagai macam polesan cat bertema batik di hampir seluruh objek.
Misalnya dinding-dinding rumah warga, jalan berbahan paving dan gapura, semuanya bertema batik.
Suasana kampung itu pun terbilang sejuk dan teduh lantaran tanaman-tanaman di sekitar yang rindang, selain itu, tampak ada kotoran atau sampah-sampah.
Jika Anda mencari batik buatan tangan dengan motif khas Kota Semarang, bisa mendatangi toko Batik Djago, salah satu rumah penghasil kain batik, terletak di RT 4 RW 2 Kelurahan Rejomulyo.
Dodo Budiman, seorang pemilik sekaligus pengrajin batik di toko itu, mengklaim bahwa di kampung itu hanya dirinya satu-satunya pengrajin yang menggambar/membatik motif khas Semarang dengan tangannya sendiri.
Produk-produk yang dihasilkannya pun bermacam, misalnya kain batik peranakan (perpaduan motif khas lokal dengan corak khas peranakan) dan Semarang Heritage (bangunan-bangunan peninggalan sejarah di Kota Semarang).
Ada empat produk utama dalam kategori batik khas Semarang itu, yaitu motif peranakan Tionghoa, motif Burung Blekok, motif Pohon Bambu dan motif Semarang Heritage.
Masing-masing berukuran sekitar dua setengah meter persegi dan dihargai antara delapan ratus ribu hingga satu jutaan rupiah.
Dodo yang merupakan seorang seniman batik tersebut mengaku bahwa proses penggambarannya termasuk sulit dan memakan waktu selama beberapa bulan dalam pengerjaannya.
“Membatik dan menggambar dengan tangan itu berbeda dengan kain batik model printing. Kita harus benar-benar hati-hati, salah satunya menjaga cat agar tetap rapi,” ujarnya saat ditemui Tribunjateng.com di Kampung Batik, hari ini, Selasa (2/10/2018).
Selain toko Batik Djago, masih ada sejumlah produsen atau pengrajin lain yang menghasilkan batik-batik.
Anda dapat memilih berbagai macam jenis-jenis batik di lokasi tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/mural-kampung-batik_20171101_054433.jpg)