Kasus Narkoba

Rutan Polrestabes Semarang Dipadati Tersangka Kasus Narkotika

Hingga kini daya tampung ruang tahanan Polrestabes Semarang membludak oleh tersangka kasus narkoba.

Rutan Polrestabes Semarang Dipadati Tersangka Kasus Narkotika
SERAMBI INDONESIA/ZUBIR
Direktur IV Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Polri, Brigjen Eko Daniyanto, didampingi pihak lainnya memperlihatkan sabu dan pil Happy Five. 

Laporan Reporter Tribun Jateng, Rival Almamaf

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kasus beredaran narkotika di kota Semarang terus meningkat dari tahun ke tahun. Hingga kini daya tampung ruang tahanan Polrestabes Semarang membludak oleh tersangka kasus narkoba.

Kasat Reserse Narkoba, AKBP Sidik Hanafi, Selasa (2/10/2018) mengungkap hingga saat ini ada 89 tahanannya yang masih berada di sel Polrestabes Semarang. "Di sini itu sebenarnya daya tampung tahanan hanya 90 orang, namun sudah beberapa waktu terakhir ini overload, saya nggak tahu persis tahanan satreskrim ada berapa," terang Sidik Hanafi.

Ia menyebut pada tahun ini hingga bulan September memang jumlah tersangka kasus narkoba meningkat jauh dari tahun sebelum-sebelumnya. Ia memaparkan, tahun 2016 ia mengungkap 175 kasus dengan meringkus 237 tersangka.

Sementara di tahun berikutnya jumlahnya meningkat. Ada 198 dengan 247 tersangka. "Tahun ini sampai September saja sudah ada 234 kasus dengan dengan 279 tersangka, dan mereka 95 persen semua orang Kota Semarang," beber Sidik.

Ia menyebut dengan jumlah kasus yang semakin bertambah itu menunjukan bahwa peredaran narkotika di Kota Lunpia semakin banyak.

"Ini upaya preventifnya yang perlu digenjot lagi, bukan hanya dari polisi, namun juga pemerintah kota, atau lembaga anti narkoba lainnya harus menambah lagi sosialisasinya. Kalau penindakan oke lah itu wilayah kami," bebernya.

Menurutnya meningkatnya peredaran narkoba memang ada beberapa faktor. Salah satu yang paling berpengaruh adalah pasar yang kini menurutnya semakin luas.

Jika dahulu konsumen sabu atau ekstasi adalah orang-orang di kalangan menengah atas, kini justru mayoritas menengah ke bawah. Ia bahkan menyebut jika dahulu transaksi dilakukan di tempat hiburan malam, kini warung nasi atau yang lebih dikenal dengan sebutan kucingan atau angkringan pun juga terjamah peredaran sabu. (*)

Penulis: rival al-manaf
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved