Senin, 20 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kampung KB 100% di RW 3 Kelibeji, Tuntang, Kabupaten Semarang

Dari data tersebut, disebutkan semua peserta KB merupakan perempuan atau para ibu. Mereka ingin memberikan jarak kelahiran 3-5 tahun antaranak.

Penulis: amanda rizqyana | Editor: Catur waskito Edy

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Amanda Rizqyana

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN -- 300 KK di RW 3 Desa Kalibeji, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang  sukses menggalakkan program 100 % berkontrasepsi.

Mereka mendukung gerakan Keluarga Berencana (KB) karena angka kelahiran di rukun warga (RW) tersebut cukup tinggi, yakni 10 kelahiran pertahun, sementara angka kelahiran standar ialah 5 kelahiran per 200 KK.

Selain tingginya angka kelahiran, angka bawah lima tahun (balita) di RW tersebut pun cenderung tinggi, yakni sebanyak 60 anak dari standar balita 30 anak per 200 KK. Tiap KK di RW ini memiliki 2-3 orang anak.

Untuk itu, Wulan Surani (34) selaku Kader Kampung KB Kalibeji bersama tim menggerakkan seluruh ibu atau wanita untuk berKB. KB yang dipilih oleh mereka ialah suntik sebanyak 60%, implan 20%, IUD 10%, dan KB mandiri atau kalender sebesar 10%.

"Tugas kami ialah memberikan pengetahuan tentang KB dan meningkatkan partisipasi masyarakat tentang KB," ujar Wulan.

Dari data tersebut, disebutkan semua peserta KB merupakan perempuan atau para ibu. Mereka ingin memberikan jarak kelahiran 3-5 tahun antaranak.

Sebagian besar para ibu yang sudah memiliki satu atau lebih anak memilih KB jenis implan atau suntik. Sementara itu untuk angka kelahiran ibu usia produktif ialah 7-8 kelahiran pertahun, sementara untuk angka kelahiran ibu usia belia ialah 2-3 tahun.

Pada kesempatan yang sama, Mundjirin selaku Bupati Semarang sekaligus dokter spesialis kebidanan dan kandungan hadir memberikan sambutan pembukaan "Seminar dalam Rangka Hari Kontrasepsi Sedunia: Kesehatan Reproduksi untuk Keluarga Terencana Menuju Indonesia Sejahtera" di Abhimantarana Ballroom, The Wujil Resort and Conventions pada Rabu (3/10/2018) pagi.

Mundjirin menuturkan kontrasepsi merupakan upaya mencegah pertemuan sel kelamin jantan dan sel kelamin betina atau sel telur.

Upaya yang dilakukan pemerintah dalam pembangunan ialah melakukan pembangunan di wilayah desa, yakni pembentukan Kampung KB.

Kampung KB ini diharapkan dapat memberikan edukasi pada masyarakat perihal KB karena hingga saat ini banyak masyarakat yang belum mengetahui peraturan dan tata cara KB.

"Keprihatinan atas masyarakat yang sudah berumur dan memiliki anak, kemudian ia hamil. Ketika ditanya kenapa bisa hamil dan kenapa tidak KB, ia menjawab tidak tahu," ujar Mundjirin.

Hal tersebut tentu membuat banyak pihak merasa memiliki tanggung jawab karena kehamilan di usia tua berbahaya bagi ibu maupun janin.

Sementara itu, masyarakat saat ini hanya menggunakan KB sederhana (tidak ejakulasi di dalam rahim, namun di luar rahim, red) sehingga berpotensi akan adanya kebobolan atau kehamilan tak direncanakan.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved