Jumat, 24 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berat Badan Capai 179,3 Kg, Silvia,Remaja 15 Tahun Terpaksa Putus Sekolah

ia kini memiliki bobot mencapai 179,3 kilogram dengan postur 145 sentimeter

Editor: muslimah
Silvia Dwi Susanti yang memiliki bobot mencapai 179,3 kilogram, sehari-hari gemar berada di depan televisi dan ngemil.(KOMPAS.com / Hamzah) 

TRIBUNJATENG.COM - Obesitas yang dialami Silvia Dwi Susanti, warga Desa Cangkring, Kecamatan Bluluk, Lamongan, membuat gadis yang kini berusia 15 tahun tersebut sudah lama meninggalkan bangku sekolah.

Silvia bahkan enggan kembali pergi ke sekolah untuk menuntut ilmu.

Terhitung sejak dirinya berada di bangku kelas IV madrasah ibtidaiyah (MI) atau setingkat sekolah dasar (SD), Silvia tidak lagi bersekolah lantaran malu dengan rekan-rekannya.

“Sejak kelas IV mau naik kelas V, Silvia tidak lagi mau ke sekolah. Katanya malu sama teman-teman di sekolah dengan (bentuk) tubuhnya yang terus membesar (gemuk)," tutur Musri (47), ibu Silvia saat ditemui Kompas.com, Selasa (16/10/2018).

Terlebih, menurut Musri, sejak masih kecil Silvia memang berbeda dengan kakak kandungnya, Nurul Diah Setyowati, lantaran cenderung lebih pendiam dan pemalu.

Silvia merupakan anak bungsu dari pasangan almarhum Suroso dan Musri. Dia kini memiliki bobot mencapai 179,3 kilogram dengan postur 145 sentimeter.

Berbeda dengan rekan-rekannya di sekolah waktu itu, yang biasa beraktivitas dengan pergi dan pulang secara mandiri, Silvia harus ditunggui oleh Musri setiap hari bersekolah di MI Al Ikhlas, yang terletak di desa tetangga.

“Silvia ini memang tak pakai (bersekolah) TK dulu kayak anak-anak lain, tapi langsung MI. Saya daftarkan waktu itu karena umurnya memang sudah mencukupi,” jelasnya.

Meskipun tanpa bersekolah di TK, Silvia kecil mampu melalui tes maupun ujian yang dilakukan pihak sekolah waktu itu.

Silvia berhasil mengerjakan tes seperti apa yang dilakukan rekan-rekannya.

“Memang bisa baca, menulis, dan menghitung. Karena di rumah, dia memang saya ajari belajar. Kadang diajari sama mbaknya (kakaknya) juga, makanya bisa menulis, baca, dan berhitung," ujar Musri.

Menurut Musri, saat itu semuanya berjalan normal meski setiap kali bersekolah Silvia merengek minta ditunggu oleh Musri.

Hingga pernah suatu hari, Musri tidak menunggu Silvia pada saat bersekolah.

Silvia yang mengetahui hal itu langsung menangis dan minta diantar pulang ke rumah.

 “Pernah setelah saya antar, terus saya tinggal, karena saya harus bekerja serabutan sebagai buruh tani. Tapi pas tahu saya tinggal, dia malah nangis dan minta diantar pulang. Sejak itu tidak pernah saya tinggal lagi sampai terakhir kelas IV sebelum nggak mau sekolah lagi itu,” terangnya.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved