Kemarau Panjang Jadi Berkah Bagi Depo dan Supir Air Gunung Ungaran
Namun, hal tersebut justru menjadi berkah bagi sejumlah sopir tangki air gunung Ungaran.
Penulis: amanda rizqyana | Editor: suharno
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Amanda Rizqyana
TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Musim kemarau panjang menjadi kendala bagi masyarakat.
Tak hanya membuat ladang dan persawahan kering, namun juga mengakibatkan sejumlah sumur di setiap rumah mencapai dasar terdalam.
Namun, hal tersebut justru menjadi berkah bagi sejumlah sopir tangki air gunung Ungaran.
Dwi Aji (38) menuturkan dalam sehari ia bisa mengantarkan air minimal lima kali, bahkan bila sedang beruntung bisa mengantarkan air hingga delapan kali.
Area antarannya bervariasi, mulai dari Kabupaten Semarang, Kota Semarang, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Demak, hingga Kabupaten Kudus.
"Pada saat hari biasa di musim penghujan, saya mengantarkan air untuk depo air isi ulang. Pada musim kemarau seperti sekarang, permintaan air datang juga dari kalangan rumah tangga," terang Dwi ada Minggu (21/10/2018) siang di Depo Air Gunung Ungaran CV Tirta Wening, Kelurahan Keji, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.
Baca: Panpel PSIS Semarang Sudah Siapkan Tempat untuk Suporter Laskar Wong Kito
Untuk mengisi air dalam tangki 6000 liter, ia membayar Rp 25.000.
Air yang ia distribusikan ke wilayah Kabupaten Semarang dan Kota Semarang, ia mematok harga Rp 220 ribu hingga Rp 250 ribu.
Sementara wilayah terjauh seperti Kabupaten Kudus, ia mematok harga Rp 300 ribu - Rp 400 ribu.
Dwi juga mengatakan meningkatnya permintaan air pada sektor rumah tangga, ia memiliki tarif berbeda, yakni Rp 50.000 tiap rumah.
Meskipun permintaan air tengah tinggi, namun Dwi harus berhati-hati ketika memacu kendaraan.
Membawa material cair seberat 8 ton hingga ke luar kota dengan instensitas yang meninggi, rawan menyebabkan kecelakaan.
Dwi mengantisipasi musim seperti ini dengan memaksimalkan istirahat dan memprioritaskan lokasi yang mudah dijangkau.
Selain itu, ia selalu mengecek performa kendaraan yang dibawanya mengingat membawa beban benda cair yang berat tentu menimbulkan daya dorong pada jalanan menurun.
Ia dan sejumlah kawan juga memberlakukan sistem shift agar tetap dapat melayani permintaam konsumen.
Senada dengan yang dipaparkan oleh Dwi, Solikhin (35) selaku pengelola depo air CV Tirta Wening menuturkan, kenaikan permintaan air hingga 100%.
Bila pada hari biasa hanya 200 truk tangki, kini para truk tangki tersebut harus mengantri untuk dapat mengisi muatan.
Permintaan yang datang pun tak mengenal waktu.
Musim kemarau yang panjang ini mendorong banyak supir dan truk memaksimapkan diri sebelum musim penghujan datang.
"Kalau awal musim penghujan justru terjadi penyumbatan sumber air," ujar Solikhin.
Meskipun rata-rata truk tangki yang datang memuat 6000 liter, ada pula tangki yang memuat lebih dari 7000 liter.
Biaya yang dipatok untuk truk tangki jenis tersebut ialah Rp 50 ribu.
Selain depo air yang ia kelola, terdapat juga dua depo air di kelurahan yang sama.
Sehingga, sepanjang Jalam Yudhistira Raya selalu ramai hilir-mudik truk tangki air gunung Ungaran. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/truk-pengangkut-air_20181021_182520.jpg)