Breaking News
Senin, 25 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Sempat Diduga Makam Kuno, Arkeolog Meyakini Ini Dibangun Masa Kolonial Belanda

Keberadaan bangunan yang diduga makam kuno ini malah diyakini ada pada masa kolonial Belanda, antara tahun akhir 1800 hingga 1900.

Tayang:
Penulis: Dwi Laylatur Rosyidah | Editor: m nur huda
Tribun Jateng/ Dwi Laykatur Rosyidah
Struktur bangunan kuno di Dukuh Cacah, Desa Sukoharjo, Kabupaten Pati yang sempat gegerkan warga karena dugaan sebagai makam kuno.  

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Dwi Laykatur Rosyidah

TRIBUNJATENG.COM, PATI - Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan observasi atas temuan struktur bangunan di Dukuh Cacah, Desa Sukoharjo, Kabupaten Pati yang sempat gegerkan warga karena dugaan sebagai makam kuno, Kamis (15/11/2018).

Bangunan tersebut mempunyai luas sekitar 9 x 8 meter, dengan bentuk kotak dan beberapa bagian yang sebagian besar sudah terbongkar.

Lokasinya dekat dengan pohon beringin besar dan mata air yang kerap disebut dengan Punden Mbah Gamirah.

Namun setelah dilakukan survei di sekitar lokasi, Ketua Tim Peninjauan Kepurbakalaan Balai Arkeologi Yogyakarta Drs Masyhudi MA, menjelaskan bahwa bangunan ini bukan makam.

Dirinya bersama tim menyebut bahwa bangunan ini merupakan bangunan pendukung atas keberadaan mata air yang ada di dekatnya.

"Jadi bangunan ini adalah bangunan pendukung bangunan air yang ada di sebelah," jelasnya kepada Tribunjateng.com.

Dalam diskusinya bersama warga, kemungkinan bangunan tersebut dahulunya adalah penampungan air atau tempat yang dimanfaatkan untuk mendukung adanya sumur.

Hal tersebut untuk memudahkan akses masyarakat terhadap air dan menjadi usaha lebih untuk menjaga air yang terbatas.

Keyakinan bangunan itu adalah bangunan pendukung juga berdasar pada jenis batu bata yang sama, antara batu bata bangunan yang ditemukan dengan lapisan batu bata yang lama pada bangunan sendang.

"Pada struktur bangunan sendang ada dua lapis bata yang lama dan baru, dan bata di sini mirip dengan bata di sana yang lama," ungkapnya.

Ia juga menjelaskan, bangunan ini bukan makam kuno lantaran tidak ada material kultur yang membuktikan.

Indikator sebagai makam antara lain jirat, nisan dan juga enkripsi atau tulisan tidak ditemukan di sini.

"Memang ada bukti materi tapi tidak seperti yang diduga oleh masyarakat. Di sini diduga sebagai makam, namun tidak ada indikasi seperti adanya jirat, nisan, ada enskripsi ada tulisannya. Tidak kita temukan," imbuh Hudi.

Keberadaan bangunan ini malah diyakini ada pada masa kolonial Belanda, antara tahun akhir 1800 hingga 1900.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved