CAPD Jadi Alternatif Selain Cuci Darah Bagi Penderita Gagal Ginjal
Selain cuci darah atau cangkok ginjal, CAPD (Continuos Ambulatory Peritoneal Dialysis) juga menjadi alternatif terapi untuk penderita gagal ginjal
Penulis: faisal affan | Editor: m nur huda
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Faizal M Affan
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Selain cuci darah atau cangkok ginjal, CAPD (Continuos Ambulatory Peritoneal Dialysis) juga menjadi alternatif terapi untuk penderita gagal ginjal. Sistem cuci darah seperti ini sangat cocok untuk penderita yang mempunyai aktivitas yang tinggi.
Menurut dr. Dwi Lestari P, Msi Med, SpPD-KGH, dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi SMC RS Telogorejo Semarang, cuci darah CAPD bisa dilakukan secara mandiri. Baik di rumah, di kantor, atau di manapun.
"Asal saat memasukkan cairan ke dalam tubuh, tangan harus dicuci menggunakan sabun dan memakai masker mulut. Usahakan ruangan untuk memasukkan cairan juga bersih tanpa jendela yang terbuka, supaya angin tidak masuk ke dalam," ucap Dwi.
Dalam sehari, proses dialisis CAPD bisa empat sampai enam jam sekali. Tergantung kondisi tubuh setiap orang dan minuman apa yang dikonsumsinya. Dalam proses memasukkan cairan dialisat, penderita gagal ginjal paling tidak membutuhkan waktu 30 menit.
"Prosesnya lebih singkat jika dibandingkan dengan cuci darah di rumah sakit. Jika cuci darah bisa sampai lima sampai sepuluh jam, CAPD hanya cukup 30 menit saja. Tetapi bedanya, cuci darah hanya dilakukan seminggu dua kali. Beda dengan CAPD yang sehari bisa empat kali," tuturnya.
Proses kerjanya, penyaringan darah pada CAPD menggunakan membran peritoneum. Jika pada proses hemodialisis (cuci darah) ada dialiser yang juga berisi membran untuk menyaring darah. Sedangkan pada proses CAPD cairan dialisat dimasukkan ke rongga peritoneum, lalu terjadi proses penyaringan darah.
"Kemudian, dialisat yang mengandung produk sisa atau toksin dari apa yang dikonsumsi, dikeluarkan dari rongga peritoneum melalui selang yang bisa dibuka tutup.
Sedangkan proses awalnya, sebuah kateter dipasang di dalam perut melalui tindakan operasi ke rongga peritoneum. Setelah terpasang, cairan dialisat berfungsi untuk membilas peritoneum. Fungsinya menyaring darah setiap hari," paparnya.
Keuntungan menggunakan sistem CAPD selain lebih hemat waktu dan tidak perlu mondar mandir rumah sakit, penderita juga bebas mengkonsumsi minuman apapun.
Karena proses pencucian darah dilakukan lebih sering. Sehingga penderita gagal ginjal yang datang ke rumah sakit hanya untuk konsultasi, atau mengambil cairan dialisatnya.
"Dari segi biaya sebenarnya sama jika menggunakan BPJS. Sedangkan obat-obatan yang dikonsumsi juga tidak jauh berbeda. Karena penderita gagal ginjal biasanya juga mempunyai hipertensi, gangguan sel darah merah, gangguan kalsium, dan tidak seimbangnya elektrolit. Maka perlu dikendalikan dengan obat," jelas Dwi.
Maka, Dwi menyarankan akan lebih baik jika bisa cangkok ginjal. Sebab penderita gagal ginjal akan bisa beraktivitas layaknya manusia sehat. Biasanya ginjal akan diambil melalui pendonor dari keluarganya yang memiliki golongan darah yang sama.
"Cangkok ginjal tetap yang terbaik untuk penderita gagal ginjal. Karena fungsi ginjal mereka sudah tidak bisa lagi menyaring toksin yang ada di dalam tubuh yang berasal dari makanan dan minuman," imbuhnya.
Sepengetahuan Dwi, CAPD ditemukan oleh seorang yang berasal dari Belanda sejak tahun 1950-an. Memang faktanya di Indonesia tidak begitu banyak penderita yang menerapkan sistem cuci darah ini.
Tetapi, di Hongkong dan Singapura menurut Dwi lebih banyak yang menggunakan CAPD.
"Mungkin karena di sana faktor kesibukan jadi penentu seorang penderita gagal ginjal lebih memilih CAPD. Tetapi di Indonesia, khususnya Semarang tidak begitu banyak. Mereka lebih banyak cuci darah ke rumah sakit," pungkasnya.(afn)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/7-kebiasaan-harian-yang-menyebabkan-gagal-ginjal_20180913_121002.jpg)