Breaking News:

Sidang Tipikor, Slamet Berdalih Korupsi Untuk Pengobatan Anaknya Yang Terkena Kanker Otak

Slamet Sarino, mantan pengurus Badan Keswadayaan Masyarakat Karya Baru Pekalongan mengaku korupsi untuk biaya pengobatan anaknya yang terkena kanker.

Penulis: hesty imaniar | Editor: suharno
net
ilustrasi korupsi 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Hesty Imaniar

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Slamet Sarino, mantan pengurus Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Karya Baru, Panjang Baru, Pekalongan, harus berurusan dengan meja hijau, karena nekat melakukan tindak pidana korupsi.

Slamet melakukan tindak pidana korupsi dari anggaran yang dimiliki Unit Pengelola Keuangan (UPK) BKM Karya Baru tersebut.

Dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Tipikor Semarang, Selasa (18/12/2018), Slamet dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Pekalongan, dengan pidana selama dua tahun dan enam bulan penjara.

KPK Hibahkan Barang Rampasan Hasil Korupsi ke Pemkab Banjarnegara, Senilai Rp 2,1 Miliar

Namun, dalam amar tuntutannya, di hadapan majelis hakim yang dipimpin, Andi Astara, JPU Kejari Pekalongan, Sri Maryamti dan tim, menyatakan, terdakwa Slamet Sarino tidak terbukti melakukan tindak pidana primair, dan membebaskan terdakwa dari dakwaan primair tersebut.

JPU kemudian menuntut pidana kepada terdakwa selama 2 tahun 6 bulan penjara dan menetapkan terdakwa tetap ditahan dan denda Rp 50 juta subsidair 4 bulan kurungan.

"Paling lambat setelah 1 bulan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi UP tersebut, bila juga tak mencukupi diganti pidana penjara selama 1 tahun," ujar Sri Maryati, dan tim.

Usai dituntut, terdakwa Slamet Sarino, langsung mengakui kesalahan perbuatannya di hadapan persidangan.

Terkait pembelaanya ia menyerahkan sepenuhnya kepada penasehat hukumnya dari kantor hukum Satya Manunggal, yang merupakan tunjukan pengadilan.

Polres Kendal Terima Penghargaan Zona Intregitas Wilayah Bebas Korupsi dari Kemenpan RB

"Saya akui kesalahan dan mohon keringanan hukuman. Saya sudah tua mohon di kembalikan ke Rutan Pekalongan, kalau sudah divonis agar dekat keluarga, karena saya juga keluarga tidak mampu. Saya juga berjanji tidak mengulangi perbuatan," ungkapnya, sambil terbata-bata.

Usai sidang, penasehat hukum terdakwa, Muhammad Dasuki, juga memohon majelis hakim dalam menjatuhkan vonis kepada terdakwa dijatuhi pidana yang seringan-ringanya.

"Dalam kasus ini, perbuatan terdakwa dengan menguntungkan diri sendiri adalah semata-mata bukan untuk kepentingan pribadi," ungkap Dasuki.

"Tindak Pidana Korupsi ini dilakukannya untuk kebutuhan biaya pengobatan kanker otak untuk anaknya saat ini," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved