Sabtu, 9 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kasus HIV/Aids di Kota Semarang Tahun 2018 Ada 546 Temuan, Terbanyak di Semarang Utara 

Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, dalam periode Januari-November 2018 terdapat 546 temuan kasus penderita HIV/Aids.

Tayang:
Penulis: m zaenal arifin | Editor: m nur huda
GOOGLE
Ilustrasi HIV/AIDS 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kasus penyebaran penyakit HIV/Aids di Kota Semarang pada 2018 ini sangat tinggi.

Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, dalam periode Januari-November 2018 terdapat 546 temuan kasus penderita HIV/Aids.

Kepala Dinkes Kota Semarang, Widoyono menuturkan, dari jumlah kasus yang ditemukan, paling banyak ditemukan di wilayah Semarang Utara dengan 149 kasus.

Kemudian disusul Semarang Barat 122 kasus, Tembalang 107 kasus, Pedurungan 104 kasus, dan Semarang Timur 86 kasus.

"Semarang Utara paling tinggi kasus HIV Aidsnya. Yang paling rendah itu ada di Kecamatan Tugu dan Mijen masing-masing 22 kasus. Mungkin itu juga karena penduduknya di sana paling sedikit," kata Widoyono, Senin (31/12/2018).

Widoyono mengungkapkan, temuan kasus tersebut diperoleh dari layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) di setiap Puskesmas dan rumah sakit di Kota Semarang. Menurutnya, dengan ditemukannya kasus tersebut maka dapat dilakukan penanganan agar tidak menyebar semakin luas.

Pasalnya, katanya, penyebaran penyakit HIV Aids ibarat fenomena gunung es yang terlihat sedikit di permukaannya. Hal itu disebabkan tidak semua penderita mau menunjukan diri atau mengaku jika telah terjangkit penyakit berbahaya tersebut.

"Meski Kota Semarang menduduki peringkat teratas temuan kasus HIV, ini merupakan sebuah prestasi karena kita menemukan. Belum tentu di wilayah lain yang jumlahnya sedikit yang terjangkit sedikit. Mungkin saja belum ditemukan," paparnya.

Kendati demikian, Widoyono akan lebih menggalakkan pelayanan VCT di semua Puskesmas dan rumah sakit agar semakin banyak penderita yang ditemukan. "Dengan begitu kita dapat menekan peredarannya," jelasnya.

Lebih lanjut Widoyono mengatakan, dari total kasus yang ditemukan, 25 persen penderita di antaranya merupakan warga dengan identitas Kota Semarang. Sisanya justru beridentitas luar Kota Semarang.

Kemudian, tren meningkat justru terjadi di kalangan Lelaki Suka Lelaki (LSL) atau homo seksual. Tren tersebut terjadi sejak 6 tahun terakhir.

"Untuk homo seksual atau LSL, di 2013 ditemukan 43 kasus, 2014 sebanyak 73 kasus, 2015 sebanyak 63 kasus, 2016 sebanyak 112 kasus, 2017 sebanyak 147 kasus, 2018 sebanyak 110 kasus," ungkapnya.

Dikatakannya, resiko terjangkit HIV melalui perilaku homo seksual sangat tinggi. Meski begitu, Pemkot Semarang melalui Dinas Kesehatan terus melakukan pendampingan kepada Orang Dengan HIV/AIDS (Odha).

Jumlah temuan kasus penyebaran HIV dari perilaku homo seksual justru lebih tinggi jika dibandingkan dengan penyebaran oleh Wanita Pekerja Seks (WPS) di Kota Semarang. Di mana data Dinkes Kota Semarang menyebutkan jika temuan kasus dari WPS sejak 6 tahun terakhir justru cenderung turun.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved