Dishub Jateng Godok Trayek BRT Terintegrasi Solo ke Karanganyar, Sragen, Boyolali dan Wonogiri
Bus tersebut akan melintasi wilayah Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Boyolali, dan Solo sebagai pusat transit.
Penulis: faisal affan | Editor: galih permadi
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Faizal M Affan
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kabid Angkutan Dinas Perhubungan Sukoharjo, Suryanto berencana mengadakan bus BRT Solo Raya.
Bus tersebut akan melintasi wilayah Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Boyolali, dan Solo sebagai pusat transit.
Kepala Dinas Perhubungan Jateng, Satriyo Hidayat, membenarkan hal tersebut. BRT Solo Raya nantinya akan beroperasi mulai tahun 2020.
"Kami saat ini masih menggodok trayek yang akan dilalui. Rencananya tahap awal akan ada empat sampai enam trayek. Di antaranya Wonogiri-Solo, Boyolali-Solo, Sragen-Solo, dan Karanganyar-Solo," terangnya, Senin (21/1/2019) pagi.
Pada tahap awal, Dishub Jateng akan menyediakan 14 armada bus ukuran 3/4 atau kapasitas 38 penumpang. Sedangkan pembayarannya tidak menggunakan uang tunai, melainkan EDC.
"EDC adalah Electronic Data Capture. Sehingga nanti penumpang hanya cukup menggunakan kartu debit untuk membayar tarif bus BRT Solo Raya," ucapnya.
Tarif yang dikenakan untuk sekali jalan dengan jarak jauh dekat yakni Rp 4 ribu untuk umum dan Rp 2 ribu untuk mahasiswa dan pelajar.
Dengan adanya BRT Solo Raya, Satriyo tidak bermaksud mematikan pengusaha angkutan di daerah. Justru ia akan mengajak mereka untuk menjadi operator BRT Solo Raya.
"Pemerintah hanya akan memfasilitasi armada, halte, dan lainnya. Operator tetap akan dijalankan oleh pengusaha angkutan umum yang sudah ada," terangnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Organisasi Organda Jawa Tengah, Dedi Sudiardi, menjelaskan apa yang dilakukan Dishub Jateng sama dengan yang sudah ada di Semarang.
"Istilahnya scrubing, atau mengganti armada yang tidak layak dan kurang manusiawi menjadi armada baru. Kami mendukung langkah Dishub Jateng karena ini mampu mengurangi kemacetan di jalan," katanya.
Ia menambahkan, Dishub sudah mengajak para pengusaha angkutan umum yang ada di Solo Raya untuk menjadi operator.
"Jika ada konsorsium antara pemerintah dengan pengusaha, maka para operator akan sangat diuntungkan. Karena pelayanan operator akan dibeli pemerintah seharga Rp 7.400 per kilometernya," papar Dedi.
Dedi berharap setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh Dishub Jateng sebaiknya dimusyawarahkan bersama operator.
Sehingga, tidak ada timpang tindih kepentingan ketika BRT Solo Raya sudah beroperasi.
"Sampai saat ini tidak ada persoalan yang memberatkan pengusaha angkutan umum. Proses akan terus berjalan. Diharapkan lancar sampai operasional," pungkasnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/gubernur-ganjar-resmikan-brt-trans-jateng-rute-terminal-bawen-stasiun-tawang-di-bawen_20170918_084247.jpg)