Permintaan Ikan Dewa Naik Saat Imlek, Tapi Produksi Sedang Turun
Tak pelak, permintaan ikan bernama lain Tramba ini melonjak saat momentum Imlek.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: galih permadi
Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki
TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - Olahan Ikan Dewa jadi sajian spesial dalam perayaan Imlek etnis Tionghoa. Tak pelak, permintaan ikan bernama lain Tramba ini melonjak saat momentum Imlek.
Pembudidaya ikan Dewa di Desa Karangtengah Kecamatan Cilongok pun ikut ketiban berkah. Sayang, produksi ikan Dewa saat ini kurang sesuai harapan.
Pembudidaya bahkan mengurangi jumlah kiriman ikan ukuran konsumsi pada Imlek tahun 2019 ini. Padahal, permintaan ikan Dewa selalu meningkat drastis menjelang perayaan Imlek.
Pembudidaya ikan Dewa di Karangtengah Kecamatan Cilongok, Banyumas, Bing Urip Hartoyo mengakui produksi ikan ukuran konsumsi di daerahnya menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Agak kurang. Saya hanya kirim berapa ke Jakarta,” katanya
Di luar budidaya, permintaan ikan dewa ukuran konsumsi saat ini banyak disuplai dari hasil tangkapan alam. Di antaranya dari wilayah Moga, Pemalang dan Lampung. Harga ikan dewa tangkapan alam dalam bentuk beku sekitar Rp500 ribu – Rp600 ribu per kilogram.
Sedangkan ikan dewa yang dijual dalam kondisi hidup harganya bisa mencapai Rp1.000.000 per kilogram.
Berkurangnya produksi ikan Dewa hasil budidaya ini tak lepas dari dampak pencemaran Sungai Prukut. Aliran sungai Krukut kerap keruh saat musim hujan tiba. Keruhnya sungai Prukut ditengarai antara lain akibat adanya proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTB) sejak 2016 lalu di hulu sungai.
Hutan yang gundul akibat pembukaan lahan untuk proyek disinyalir memicu mata ari keruh.
Padahal, pasokan air kolam untuk budidaya ikan, termasuk ikan Dewa di desa ini masih bergantung dari aliran sungai Prukut.
Dia sudah memprediksi, sejak aliran Sungai Prukut keruh pada 2016, kondisi ini akan berdampak pada produksi ikan Dewa dalam jangka panjang.
Pasalnya, dalam kondisi air keruh, pertumbuhan ikan Dewa akan terganggu, bahkan banyak di antaranya mati karena kepekatan air yang keruh terlalu tinggi.
Bing kini memilih fokus mempertahankan indukan yang ada untuk pembibitan. Jika tak diperhatikan dengan baik, indukan ikan Dewa dikhawatirkan ikut terdampak.
“Lebih fokus ke pembibitan,” ujarnya.
Di pusat pembibitan ikan Dewa Karangtengah, kata dia, terdapat sekitar 1.000 indukan. Dalam kondisi normal, saat pemijahan, induk ikan Dewa bisa menghasilkan sekitar 300 ribu anakan berukuran 5-10 sentimeter.
Tetapi, produksi itu menurun hingga 50 persen lantaran dampak keruhnya sungai Prukut masih terasa hingga sekarang.
Wajar, dalam kondisi air keruh, indukan ikan Dewa tidak mau bertelur. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pekerja-menunjukkan-ikan-dewa-di-pusat-pembibitan-ikan-dewa-desa-karangtengah-cilongok-banyumas.jpg)