Sudarsono Pencipta Alat Deteksi Longsor Asal Banjarnegara, Modal Bukan Gelar Tetapi Autodidak
Elwasi; Early Warning System (EWS) bencana longsor karya Sudarsono dipamerkan saat acara Rakor BPBD Jawa Tengah.
Penulis: faisal affan | Editor: deni setiawan
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Alat Early Warning System (EWS) bencana longsor dipamerkan saat acara Rapat Koordinasi (Rakor) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah di Kota Semarang pada Rabu (13/2/2019) lalu.
Alat bernama Elwasi (Eling, Waspada lan Siaga) tersebut menarik perhatian peserta rapat yang dipimpin Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Kepala BNPB, Letjen TNI Doni Monardo.
Siapa sangka, alat hebat yang berguna untuk mendeteksi pergerakan tanah tersebut diciptakan oleh orang biasa saja.
Jangankan sarjana, pencipta alat tersebut ternyata orang tidak lulus sekolah dasar.
Dia adalah Sudarsono (45), warga Desa Kalimandi Kecamatan Klampok Kabupaten Banjarnegara.
Meski berpendidikan rendah, namun pria yang sehari-hari mengabdikan dirinya sebagai staff di BPBD Banjarnegara tersebut mampu menciptakan alat yang sangat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah rawan bencana longsor.
"Saya sehari-hari di BPBD Banjarnegara. Ide awal membuat alat ini karena keprihatinan saya, masih banyak daerah rawan longsor yang belum dipasang EWS," kata Sudarsono mengawali obrolan.
Ia mengatakan mencermati EWS longsor yang terpasang di beberapa tempat.
Dengan mengamati itu, dia berpikir mampu membuat alat serupa, bahan baku yang lebih murah.
"Sehingga dapat lebih bermanfat bagi masyarakat. Lalu pada 2017, saya mulai mencoba membuat alat ini," terangnya.
Sudarsono mengatakan membuat alat itu hanya dengan mengandalkan insting dan autodidak.
Berbekal kemampuannya memperbaiki alat-alat elektronik, akhirnya ia mampu menciptakan alat tersebut dengan biaya tidak lebih dari Rp 5 juta.
"Saya tidak punya ijazah, SD saja tidak lulus. Namun dahulu saya pernah mengabdi di rumah pak carik di desa, nah anaknya itu sekolah di jurusan elektronik. Saya sering diminta membantu memperbaiki berbagai peralatan elektronik, jadi sedikit-sedikit paham," terangnya.
Berbekal pengalaman itu, dia membuka bengkel elektronik kecil-kecilan di rumahnya.
Dari ilmu yang didapat otodidak, ia memahami dunia elektronik dan merasa yakin bisa membuat alat tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/elwasi-banjarnegara.jpg)